BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Risiko penularan rabies di Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih tinggi akibat banyaknya hewan liar yang belum tervaksinasi.
Berdasarkan data kasus positif pada hewan terakhir di KBB tercatat pada tahun 2020. Sedangkan pada manusia muncul di tahun 2023. Oleh karena itu rabies belum benar-benar hilang di KBB dan masih jadi ancaman.
"Tingginya pergerakan hewan peliharaan serta banyaknya hewan liar yang belum terjangkau vaksinasi, membuat ancaman rabies masih belum hilang," kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, Wiwin Aprianti dalam siaran langsung podcast Instagram memperingati Hari Rabies Sedunia, Senin (28/9/2026).
Ia menjelaskan, rabies disebabkan virus Lyssavirus yang menyerang sistem saraf pusat dan memiliki tingkat kematian mendekati 100% jika gejala klinis sudah muncul.
Penyakit ini sepenuhnya dapat dicegah melalui vaksinasi. Penularan utamanya berasal dari anjing, disusul kucing dan kera, yang dikelompokkan sebagai Hewan Penular Rabies (HPR).
"Rabies itu mematikan, tapi bisa dicegah. Ayo sayangi hewan dengan cara yang benar, yakni vaksinasi, jangan lepasliarkan, dan segera cuci luka lalu ke Puskesmas jika tergigit," sebutnya.
Menurutnya, penularan terjadi terutama melalui gigitan, namun juga bisa melalui cakaran atau jilatan pada luka terbuka dan selaput lendir mata atau mulut.
Sementara itu hewan yang terinfeksi menunjukkan dua pola gejala. Yakni bentuk ganas dengan sifat agresif, menggigit benda apa saja, takut air dan cahaya, serta air liur berlebihan dan bentuk diam yang ditandai kelumpuhan, rahang menggantung, serta ketidakmampuan menelan.
Oleh sebab itu vaksinasi menjadi benteng utama dengan efektivitas lebih dari 95%. Pemberian pertama dilakukan saat hewan berusia 4 bulan, diulang setiap tahun seumur hidup.
"Cakupan vaksinasi di KBB belum mencapai 70% populasi HPR sesuai ambang batas minimal kekebalan kelompok yang diamanatkan program Indonesia Bebas Rabies 2030," imbuhnya.
Wiwin melanjutkan, tingginya populasi hewan liar serta kesadaran pemilik yang belum merata, membuat upaya pemberantasan menghadapi tantangan besar.
Langkah pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dan murah dibandingkan penanganan setelah terjadi paparan, sehingga jangan tunggu digigit baru divaksin.
Saat tergigit pertolongan pertama yang paling krusial adalah mencuci luka dengan air mengalir dan sabun detergen selama 15 menit tanpa menutup atau menjahit luka terlebih dahulu.
Upaya ini dapat menurunkan jumlah virus hingga 80%, lalu segera bawa korban ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) sesuai indikasi.
"Kami ingatkan masyarakat untuk tidak mencari pengobatan tradisional atau secara mistis, sebab langkah tersebut justru memperlambat penanganan medis yang menyelamatkan nyawa," pungkasnya. (*)
Editor : Rizki Maulana
Artikel Terkait
