Pakai Kostum Nyentrik dan Arak Sisingaan, Gaya Unik Alumni ITB 76 Rayakan 50 Tahun Pertemanan

Aga Gustiana
Alumni ITB 76 gelar karnaval Sisingaan meriah di Bandung memperingati 50 tahun kebersamaan. (Foto: Istimewa)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Alunan kendang yang bertempo cepat menyemarakkan kawasan Jalan Taman Sari, Kota Bandung, pada Sabtu (22/8/2026). Rombongan alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1976 tumpah ke jalan menggelar parade budaya unik lengkap dengan atraksi Sisingaan berukuran besar yang diarak secara meriah.

Meski mayoritas peserta parade telah berusia di atas setengah abad, semangat mereka tak surut sedikit pun. Mengenakan kostum warna-warni yang mencolok—mulai dari sentuhan oranye, hijau, ungu, hingga kuning terang—mereka tampil nyentrik berbalut jubah abstrak, topi bucket, serta topeng pesta berhias bulu yang dirancang seragam.

Doni Budi Prihandana selaku Ketua Panitia Alumni ITB 76 mengungkapkan bahwa kebudayaan Pasundan dipilih sebagai fondasi utama acara reuni emas ini agar selaras dengan identitas Kota Bandung tempat mereka menimba ilmu dulu.

"Sebetulnya arak-arakan memang rame aja, kemudian mengingatkan kebudayaan lokal. Jadi berjalan bersama kemudian diiringi oleh lagu yang keras, ala karnaval budaya," ujarnya saat diwawancarai Tribun Jabar pada Sabtu (22/8/2026).

Selain atraksi Sisingaan, para alumni juga ikut menyuarakan alunan musik angklung. Doni menegaskan bahwa pengenalan kembali budaya Jawa Barat ini krusial untuk menyegarkan ingatan para alumni.

"Bagaimanapun (ITB) di Jawa Barat atau lebih tepatnya di Bandung. Jadi mengingatkan kembali ingatan mereka, sebetulnya sih sudah tua, tidak selalu aware kebudayaan," ucapnya.

Namun bagi Doni, esensi sejati dari perayaan ini bukan sebatas kemegahan karnaval semata, melainkan konsistensi merawat tali silaturahmi yang telah terjalin selama setengah abad.

"Kita rayakan dan kita juga banyak yang sudah meninggalkan kita, kita ingatkan. Sekali teman tetap teman. Kalau bisa bersaudara kita. Jadi guyub," ujarnya.

Jejak Sosial dan Refleksi Masa Depan Pendidikan

Ketua Angkatan ITB 76, Wahyu Wijayadi, menjelaskan bahwa rangkaian reuni 50 tahun ini diisi oleh berbagai agenda produktif. Sebelum ajang parade budaya digelar, para alumni telah melangsungkan pameran seni dan fotografi, aksi donor darah, simposium, kegiatan olahraga, hingga beragam bakti sosial.

Hebatnya lagi, persahabatan lima dekade ini melahirkan ikatan abadi yang bermanfaat bagi publik luas. Salah satu peninggalan nyatanya adalah pembangunan Masjid ITB 76 di wilayah Gunungkidul, DIY, hibah buku-buku teknik untuk perpustakaan kampus, serta penyerahan karya patung dari seniman alumni Seni Rupa 1976, Ketut Winata.

Kendati merayakan masa lalu, Wahyu tetap memberikan pesan tajam bagi keberlangsungan almamaternya agar tak gagap menghadapi era modern.

“Kampus harus berubah. Jangan alergi terhadap perubahan, enggak usah takut dengan perubahan,” ujarnya.

Ia menambahkan, institusi pendidikan tinggi wajib menyesuaikan diri dengan dinamika industri agar para lulusannya tidak terasing ketika diterjunkan langsung ke masyarakat.

“Cepat atau lambat begitu keluar dari kampus kita masuk dunia industri. Di situlah kita betul-betul kampus dunia, bukan kampus sekolahan. Yang menilai kita adalah masyarakat,” katanya.

Momentum berharga ini pun menutup kerinduan mendalam para alumni akan memori masa muda mereka saat masih menapaki kampus ganesha, terutama kenangan ikonis di sekitar Aula Barat.

“Kenangan masa lalu terulang kembali, terkuak kembali. Kenangan indah masa lalu yang lama. Kita, kan dulu di ospek di sini, pada botak-botak," ujarnya.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network