Pulihkan Warga Terdampak Bencana di Bireuen Aceh, Rumah Amal Salman-ITB Bangun Hunian Sementara

Bennazir
Pulihkan Warga Terdampak Bencana di Bireuen Aceh, Rumah Amal Salman-ITB Bangun Hunian Sementara. (Foto:Istimewa)

​​BANDUNG, iNewsBandungRaya.id  - Rumah Amal Salman bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Paragon Corp kembali berkolaborasi membantu masyarakat terdampak bencana di Bireuen, Aceh. 

Sebanyak empat bangunan yang terdiri atas tiga hunian sementara dan satu musala dibangun untuk membantu warga kembali menjalani aktivitas dan bekerja dengan lebih layak. 

Tiga unit bangunan digunakan sebagai hunian sementara, dengan masing-masing unit dapat ditempati oleh dua keluarga. Sementara itu, satu unit lainnya digunakan sebagai musala. 

Bangunan dirancang secara fleksibel agar dapat menyesuaikan kebutuhan masyarakat, baik selama masa pemulihan maupun ketika nantinya dialihfungsikan untuk kepentingan umum.

Arsitek ITB, Andry Widyowijatnoko menjelaskan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pembangunan adalah kecepatan konstruksi. 

Menurutnya, konsep atap mansard yang digunakan merupakan hasil pengembangan sistem rangka yang memungkinkan bangunan dibuat dengan metode precut atau prefabrikasi, kemudian dirakit dengan durasi yang cepat di lokasi. 

“Terbukti tiga rangka penuh berdiri dengan tambahan beberapa gording terpasang bisa didirikan dalam waktu hanya 3 jam 22 menit,” ujar Andry dikutip, Kamis (1/11/2026).

Menurutnya, desain tersebut juga disesuaikan dengan kebutuhan ruang dan kondisi di lokasi, termasuk ketersediaan kayu sebagai bahan utama serta keterampilan tenaga kerja setempat. 

Atap mansard memberikan volume ruang yang lebih besar sehingga dapat mendukung kenyamanan termal dan kualitas ruang. Konsep ini juga dapat diterapkan di wilayah lain dengan menyesuaikan budaya bermukim, kebutuhan ruang, material lokal, dan keterampilan ketukangan di masing-masing daerah.

Di tengah kondisi pascabencana, kebutuhan hunian menjadi persoalan yang cukup berat bagi masyarakat Bireuen. Keuchik setempat menjelaskan, bencana turut menyebabkan hilangnya tempat tinggal, tempat kerja, serta lahan pertanian dan kebun produktif masyarakat. Kondisi tersebut membuat sebagian warga kesulitan menyewa rumah maupun membeli lahan untuk membangun tempat tinggal.

Keuchik, salah satu masyarakat setempat mengungkapkan, dengan adanya hunian tersebut, masyarakat yang telah menempatinya kini dapat kembali bekerja tanpa harus memikirkan biaya sewa maupun persoalan tempat tinggal. 

“Masyarakat yang sudah menempatinya sekarang sudah aktif bekerja tanpa memikirkan lagi beban sewa ataupun tempat tinggal,” ujar Keuchik.

Pemerintah Gampong di wilayah Aceh juga akan mempertahankan manfaat bangunan tersebut dalam jangka panjang. Selama masih dibutuhkan, bangunan akan digunakan sebagai hunian. Setelah kebutuhan tempat tinggal terpenuhi, fasilitas dapat dialihfungsikan untuk kepentingan umum, seperti ruang TK, TPA atau balai pengajian, musala, dan gudang desa.

Pemulihan pascabencana bukan hanya tentang menyediakan tempat berteduh, tetapi menghadirkan ruang yang memungkinkan masyarakat kembali menjalani kehidupan dengan aman, layak, dan bermartabat.

Program ini terwujud melalui kolaborasi lintas lembaga yang melibatkan Paragon, DPMK ITB, SAPPK ITB, Universitas Sumatera Utara (USU), Corporate Real Estate Management (CREM), Kahf, dan Rumah Amal Salman. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terdampak sekaligus menghadirkan fasilitas yang dapat terus dimanfaatkan setelah masa pemulihan. (*)

Editor : Abdul Basir

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network