Bukan Cuma Mengaji, Santri Ternyata Punya Jejak Besar di Perfilman Nasional

Susana
Jelang Hari Santri 2026, PKB Jabar lewat NLA angkat peran NU dalam perfilman nasional. Foto: Ist.

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kehidupan pesantren kerap hanya diidentikkan dengan mengaji dan ibadah. Padahal, ekosistem Nahdlatul Ulama (NU) juga punya andil besar dalam perkembangan kebudayaan Indonesia, termasuk dunia perfilman nasional.

Hal itu ditegaskan DPW PKB Jawa Barat melalui National Leadership Academy (NLA) dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi NLA Lecture Series #2 bertajuk “Sinema, Kebudayaan, & Imajinasi Kebangsaan: Momentum Hari Santri: Merawat Tradisi, Membayangkan Indonesia” di Creative Hall, Jalan K.H. Ahmad Dahlan Nomor 1, Burangrang, Lengkong, Kota Bandung, Minggu (18/10/2026).

Mengangkat Kembali Sosok Djamaluddin Malik

Direktur NLA, Hasim Adnan, mengatakan pesantren dan NU punya kontribusi nyata di bidang kebudayaan. Salah satu buktinya adalah sosok Djamaluddin Malik.

“Selama ini, kehidupan pesantren sering kali hanya diidentikkan dengan kegiatan mengaji, ibadah, dan aktivitas keagamaan lainnya. Padahal, kita juga memiliki sosok seperti Djamaluddin Malik yang menunjukkan bahwa pesantren dan ekosistem NU memiliki kontribusi dalam perkembangan kebudayaan, termasuk perfilman nasional,” kata Hasim kepada wartawan.

Menurut Hasim, Djamaluddin Malik merupakan salah satu tokoh sentral sekaligus pelopor perfilman nasional di masa awal kemerdekaan, dan juga tokoh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU. Namun, sosoknya selama ini belum banyak mendapat perhatian.

“Momentum menyambut peringatan Hari Santri yang dikaitkan dengan NLA Lecture Series ini menjadi upaya untuk kembali mengangkat semangat kebudayaan sekaligus membahas bagaimana produksi film dapat memberikan dampak dan pengaruh terhadap masyarakat,” ujarnya.

Film sebagai Ruang Perjuangan

Hasim juga menegaskan besarnya kontribusi santri, pesantren, dan para kiai dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kini, menurutnya, semangat perjuangan itu bisa diwujudkan lewat jalur kebudayaan, termasuk film.

“Terkait dengan industri film Indonesia saat ini, saya kira ini juga menjadi momentum yang penting. Dengan melibatkan para tokoh sinema dan kebudayaan, kita berharap PKB dapat turut memikirkan bagaimana kebudayaan, termasuk perfilman nasional, bisa menjadi ruang perjuangan sekaligus sarana untuk membangun masyarakat,” paparnya.

Diskusi ini dihadiri Ketua DPW PKB Jawa Barat Syaiful Huda, jajaran pengurus DPW PKB Jawa Barat, seluruh anggota Fraksi PKB DPRD Jawa Barat, serta ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Cak Imin: Politik Santri Tidak Mudah, tapi Peluang Terbuka

Ketua Umum DPP PKB A. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, yang memberikan sambutan secara daring, mengakui politik santri tengah menghadapi tantangan berat. Meski begitu, ia melihat peluang bagi kaum santri justru semakin terbuka.

“Politik santri sedang mengalami situasi tidak mudah, tetapi kesempatan semakin terbuka luas,” ujar Cak Imin.

Cak Imin juga menyapa para narasumber yang hadir langsung, yakni budayawan Sujiwo Tejo, sutradara Riri Riza, dan penyair Acep Zamzam Noor. Ia berharap diskusi ini memberi masukan bagi arah perjuangan partai.

“Kita ingin terus mendapatkan masukan dan arah penting bagi PKB ke depannya, termasuk bagaimana arah perjuangan, baik jangka panjang maupun jangka pendek,” katanya.

Riri Riza Harap PKB Jadi Fasilitator Kebudayaan

Sutradara Riri Riza menilai seni dan kebudayaan, termasuk sinema yang ia geluti, merupakan bagian dari upaya kebudayaan yang sudah lama dirintis bangsa Indonesia. Ia berharap partai politik ikut mendukung perkembangannya.

“Mudah-mudahan PKB dapat mengambil peran sebagai fasilitator kebudayaan yang mendukung perkembangan seni dan sinema Indonesia agar terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ucap Riri.

Acep Zamzam Noor: Santri Bukan Sekadar Identitas

Penyair Acep Zamzam Noor menilai diskusi bertema kebudayaan dalam peringatan Hari Santri ini menarik, karena tema tersebut kerap terlupakan oleh partai politik.

“Karena pembicaraan kita tadi membuka banyak hal, terutama mengenai kebudayaan yang mungkin selama ini sering dilupakan oleh partai-partai politik,” ujar Acep.

Menurut Acep, santri dan kebudayaan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Santri merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia yang berbasis pesantren.

“Yang terpenting bukanlah kesantrian dalam arti formal, melainkan bagaimana nilai-nilai yang dimiliki oleh santri dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Santri bukan sekadar identitas, melainkan juga mentalitas dan karakter,” paparnya.

Sujiwo Tejo: Adab Tak Diajarkan di Universitas

Budayawan Sujiwo Tejo menyoroti nilai yang menurutnya hanya bisa didapat di pesantren, yakni adab.

“Hal yang tidak diajarkan di perguruan tinggi umum adalah adab. Di pesantren, ada adab. Bagaimana membukakan pintu untuk orang lain, bagaimana bersikap ketika melewati orang tua, dan sebagainya. Hal-hal seperti itu tidak diajarkan di universitas,” kata Sujiwo Tejo.

Karena itu, ia menilai keberadaan pesantren dan santri tetap penting, meski sebagian orang menganggap tradisi tersebut kolot.

“Mungkin bagi orang lain itu dianggap feodal, tetapi justru di situlah letak pentingnya. Ilmu bisa didapatkan dari Google dan sebagainya, tetapi ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang barokah,” pungkasnya.

Editor : Rizal Fadillah

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network