BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Kontingen National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Bandung Barat, diterpa kendala sarana latihan dan minimnya anggaran.
Padahal sejumlah atlet dari beberapa cabang olah raga kini sedang mempersiapkan diri menjelang Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) VII Jawa Barat 2026, yang tinggal sebulan lagi akan digelar.
Seperti cabang olahraga Bowling, dimana sewa tempat latihan terhenti sejak awal Oktober 2026, dengan total tunggakan mencapai sekitar 10 bulan. Akibatnya akses penggunaan fasilitas latihan sudah terhambat selama dua minggu terakhir.
Pelatih Kepala Cabor Bowling NPCI KBB, Acep Kurnia mengatakan, saat ini pihak pengelola tempat masih memberi kelonggaran, namun kelanjutan akses ke fasilitas tersebut terancam jika belum ada penyelesaian pembayaran.
"Pastinya, kondisi itu langsung berdampak pada kondisi para atlet saat berlatih," tuturnya, Senin (19/10/2026).
Kekecewaan tentunya dirasakan para atlet disabilitas yang selama ini menggantungkan harapan dan semangatnya pada olahraga. Ketidakjelasan dukungan membuat mental mereka terganggu, semangat berlatih menurun, dan kondisi fisik pun ikut melemah lantaran pola latihan tidak lagi berjalan konsisten.
Kendati sebagian pihak secara pribadi juga turut membantu, namun jumlahnya jauh dari cukup. Banyak di antara mereka justru merugi karena pengeluaran untuk latihan bertabrakan dengan kebutuhan hidup sehari-hari yang harus dipenuhi.
"Kondisi persiapan teknis juga belum memadai. Peralatan tanding yang dibutuhkan bahkan belum lengkap, padahal penyesuaian dan adaptasi peralatan adalah hal krusial bagi atlet," tandasnya.
Acep menyebut, pengadaan peralatan tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, yang hingga saat ini belum dapat dipenuhi.
Atas segala keterbatasan ini, pihaknya meminta agar Pemda KBB dan Dinas Pemuda dan Olahraga segera memberikan kepastian anggaran yang tertulis, jelas jumlahnya dan dapat segera direalisasikan.
"Yang paling mendesak itu kejelasan mengenai kapan dana tersedia dan berapa besarnya untuk sewa tempat latihan, gaji pelatih, peralatan tanding, seragam, transportasi, akomodasi, hingga konsumsi atlet," tegasnya.
Ketua NPCI KBB, Kasep Ayatulloh Muhammad Aliyasir mengakui betapa sulitnya posisi pengurus saat ini.
Atlet sudah terlanjur didaftarkan, namun dana yang diharapkan untuk mendukung persiapan, mulai dari sewa tempat latihan, konsumsi harian, transportasi, seragam, hingga peralatan tanding belum bisa dipastikan kapan cair.
"Komunikasi dengan pemerintah daerah memang terus dilakukan, namun kepastian pencairan anggaran penuh masih menunggu hasil evaluasi tingkat provinsi," ucapnya.
Akibatnya, lanjut Kasep, cabor yang sebelumnya berlatih di lokasi strategis kini terpaksa berpindah ke tempat yang jauh. Seperti Judo yang kini harus menempuh perjalanan hingga Arcamanik, Kota Bandung.
"Jarak yang jauh berarti biaya transportasi membengkak, biaya yang saat ini belum ada yang menanggungnya selain pengurus maupun atlet sendiri yang rela mengeluarkan dana pribadi," imbuhnya. (*)
Editor : Rizki Maulana
Artikel Terkait
