Terancam Alih Fungsi Lahan Jadi Vila, Hutan Megamendung Jadi Benteng Terakhir Ratusan Burung Migran

Aga Gustiana
Elang Jawa. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Ajang Megamendung Bird Migration Watch 2026 yang dihelat pada 16–18 Oktober 2026 sukses mendokumentasikan 915 catatan pengamatan dari tiga spesies raptor migran. Agenda pengamatan burung (bird watching) yang diprakarsai oleh Yayasan Paseban (Paseban Foundation) bekerja sama dengan Burung Indonesia serta Raptor Indonesia (RAIN) ini menjadi bagian dari strategi konservasi untuk memperdalam pemahaman migrasi satwa udara sekaligus membentengi habitat persinggahan mereka di kawasan Megamendung.

Berdasarkan rekapitulasi data, tercatat ada 828 kali pengamatan elang-alap Cina (Accipiter soloensis), 76 kali pengamatan sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus), serta 11 kali pengamatan elang-alap Nipon (Accipiter gularis). Angka tersebut merepresentasikan frekuensi perjumpaan selama pemantauan, bukan jumlah mutlak individu burung yang berbeda. Selain raptor mancanegara, para peserta juga merekam pergerakan burung migran non-raptor, 47 jenis burung lokal, hingga aneka ragam spesies amfibi dan reptil.

Di samping satwa pemangsa perantau, observasi lapangan turut menjumpai pemangsa penetap kawasan, seperti elang-ular bido (Spilornis cheela) dan burung langka elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Temuan ini makin mempertegas arti vital ekosistem Megamendung sebagai tempat transit lintas benua sekaligus rumah bagi satwa endemik setempat.

Direktur Konservasi Yayasan Paseban, Ady Kristanto, mengungkapkan bahwa kegiatan pencatatan ini melengkapi ikhtiar pelestarian lingkungan yang selama ini digarap yayasan, meliputi penangkaran avifauna endemik Jawa, pemeliharaan rusa Timor, hingga penyemaian 10.000 bibit pohon langka khas Jawa. Menurut Ady, Hutan Paseban memegang peranan krusial sebagai tempat peristirahatan malam hari bagi burung migran sebelum kembali mengangkasa, terutama di tengah masifnya alih fungsi lahan menjadi vila dan kawasan hunian.

“Jadi sangat penting jika kita punya data burung apa saja yang singgah di sini ketika malam hari, kemudian data itu bisa menjadi acuan untuk aksi konservasi ke depannya,” ujar Ady.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network