get app
inews
Aa Read Next : Survei GoodStats: Pria-Wanita Suku Sunda Dinilai Paling Ganteng dan Cantik di Indonesia

Kisah Raja Tamperan, Raja Sunda yang Penuh Intrik dan Doyan Berselingkuh hingga Lahirkan Anak

Jum'at, 28 Juli 2023 | 13:43 WIB
header img
Raja Tamperan adalah Raja Sunda yang memerintah dengan penuh intrik dan suka berselingkuh. Foto: Ist

KERAJAAN  Sunda pernah dipimpin oleh Raja Tamperan yang dikenal kontroversial karena penuh intrik, suka berselingkuh, hingga memiliki anak di luar nikah.

Dia naik tahta setelah Raja Premana Dikusuma memilih turun tahta karena ingin menjadi pertapa. Raja Tamperan konon memiliki watak "mandiminyak," yakni sering membuat skandal negatif.

Setelah naik tahta, Raja Tamperah suka berselingkuh dengan Pangrenyep. Bahkan perselingkuhan ini menghasilkan seorang anak yang dikenal sebagai Kamarasa atau Banga.

Hal itu diungkapkan oleh Sri Wintala Achmad dalam "Hitam Putih Mahapatih Gajah Mada," di mana dia menjelaskan bagaimana perselingkuhan itu menyebabkan Tamperan dan Pangrenyep sama-sama menderita batin.

Oleh karena skandal perselingkuhan ini, penerus tahta Sunda ini kurang disukai oleh rakyatnya. Tamperan menjadi Raja Sunda dari tahun 732 hingga 739.

Di lain pihak, Manarah (Ciung Wanara), yang mendapat dukungan dari Ki Balangantrang, dari Geger Sunten secara diam-diam mempersiapkan rencana untuk merebut tahta Galuh. Hingga akhirnya, pada hari yang sama dengan pesta sabung jago, pasukan Manarah menyerbu Galuh. Kudeta Manarah berhasil.

Dalam waktu singkat, Galuh berhasil dikuasai oleh Manarah. Tamperan, Pangrenyep, dan Banga ditawan di gelanggang sabung ayam. Banga yang dibiarkan bebas oleh Manarah membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan.

Sayangnya, Tamperan dan Pangrenyep yang melarikan diri pada malam hari itu tewas dihujani ribuan panah oleh pasukan Geger Sunten. Berita kematian Tamperan didengar oleh Sanjaya, yang telah memerintah di Kerajaan Medang atau Mataram Kuno periode Jawa Tengah.

Oleh karena itu, Sanjaya segera mengerahkan pasukannya untuk menyerang Galuh. Manarah yang mendapatkan laporan dari telik sandi bersiaga untuk menghadapi pasukan Medang.

Dengan dukungan sisa-sisa pasukan Indraprahasta (Wanagiri) dan raja-raja Kuningan, pasukan Galuh bertempur melawan pasukan Medang. Perang besar sesama Trah Wretikandayun itu berakhir setelah dilerai oleh Raja Resi Demunawan dari Saunggalah melalui Perjanjian Galuh (739).

Perjanjian ini menyatakan bahwa Galuh diserahkan pada Manarah dan Sunda pada Banga. Perjanjian tersebut juga menetapkan bahwa Banga menjadi raja bawahan.

Meskipun tidak sepenuh hati menerimanya, Banga tetap menerima kedudukan tersebut. Untuk memperkuat Perjanjian Galuh, Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan.

Manarah yang menjadi Raja Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana itu dinikahkan dengan Kancanawangi. Sementara Banga yang menjabat sebagai raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya itu dinikahkan dengan Kancanasari.

Dari perkawinannya dengan Kancanasari, Banga memiliki putra bernama Rakryan Medang yang kelak menjabat sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Hulukujang (766-783).

Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaannya pada Rakryan Hujungkulon (Prabu Gilingwesi) menantunya yang berkuasa di Sunda pada 783-795.

Selanjutnya, karena Rakryan Hujungkulon hanya memiliki anak perempuan, maka kekuasaan Sunda jatuh ke tangan Rakryan Diwus (Prabu Pucukbhumi Dharmeswara), menantunya yang berkuasa pada 795-819.

Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda berlanjut ke tangan Rakryan Wuwus, putranya yang menikah dengan putri Welengan (Raja Galuh 806-813).

Kekuasaan Galuh kemudian jatuh pada Rakryan Wuwus setelah Prabu Linggabhumi, saudara iparnya, meninggal. Selama menjabat sebagai raja Sunda, Rakryan Wuwus bergelar Prabu Gajahkulon.

Editor : Sazili Mustofa

Follow Berita iNews Bandungraya di Google News Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut