Perang Berkecamuk, Disnakertrans KBB Waswas Keselamatan Ratusan PMI Asal KBB di Timur Tengah
BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Kondisi Timur Tengah yang sedang bergejolak akibat perang Amerika-Israel dengan Iran berimbas ke Pekerja Migran Indonesia.
Termasuk PMI asal Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang tengah menjadi pahlawan devisa di sejumlah negara Timur Tengah. Seperti Uni Emirat Arab, Kuawit, dan Qatar.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi KBB Yoppie Indrawan Iskandar mengakui jika jumlah PMI asal KBB di Timur Tengah cukup banyak. Sehingga meletusnya perang membuat khawatir akan dampak dan keselamatan bagi mereka.
"Setelah meletus perang, kami telah berkoordinasi dengan Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) dan juga Kemenlu terkait PMI asal KBB," ucapnya, Kamis (5/3/2026).
Menurutnya, berdasarkan data yang tercatat di aplikasi Disnakertrans KBB jumlah PMI dari KBB yang berangkat dari tahun 2023 hingga 2025 sekitar lebih dari 200 orang. Sebagian besar berada di Kuwait, Qatar, Dubai, Arab Saudi, dan Yordania.
Sementara untuk yang bekerja di Iran yang terdaftar secara formal dan resmi sejauh ini tidak ada dalam catatan. Namun bisa saja jumlah PMI dari KBB yang bekerja di Timur Tengah jumlahnya lebih dari itu, karena ada yang berangkat non prosedural.
Ia memastikan, PMI yang bekerja di negara-negara tersebut hingga saat ini kondisinya aman dan belum ada laporan masalah apapun.
Pihaknya juga telah menyebarkan nomor hotline dari Kedutaan Besar atau Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) yang bisa dihubungi ke seluruh desa.
"Untuk sekarang PMI asal KBB yang bekerja di Timur Tengah adalah pekerja formal di sektor perusahaan atau pabrik, karena untuk pekerja informal masih ada moratorium," tandasnya.
Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi (P3TKT) Disnakertrans KBB, Dewi Andani menambahkan, Timur Tengah masih menjadi salah satu tujuan utama pencari kerja asal KBB.
Berdasarkan data pada tahun 2024 tercatat 99 PMI asal KBB bekerja di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Yordania.
Jumlahnya menurun pada 2025 menjadi 90 PMI, sementara di 2026 hingga awal Maret, tercatat 21 PMI yang bekerja di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Sementara di tahun ini, ada 26 pekerja yang rencananya akan diberangkatkan ke Timur Tengah di bulan April atau Mei. Mereka masih menjalani pelatihan bahasa dan adat istiadat di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) selama tiga bulan untuk mendapatkan sertipikat BNSP.
Berdasarkan rencana mereka bakal ditempatkan di Arab Saudi, Dubai, dan Kuwait untuk sopir bus. Semuanya laki-laki dan kebanyakan berasal dari Kecamatan Cipongkor dan Sindangkerta.
"Jika perang masih berkecamuk, keberangkatan bisa dicancel atau dialihkan ke negara lain yang lebih aman. Yang pasti tetap sesuai dengan skill dan kebutuhan perusahaan yang memberangkatkan," pungkasnya. (*)
Editor : Rizki Maulana