get app
inews
Aa Text
Read Next : Warga Bandung Bisa Terbang Langsung ke Luar Negeri dari Bandara Husein Mulai Oktober

Siasat Kedai Kopi di Bandung Hadapi Lonjakan Harga Plastik, Ajak Pelanggan Pakai Tumbler Pribadi

Selasa, 07 April 2026 | 22:22 WIB
header img
Ilustrasi, cup plastik. (Foto: Istimewa).

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Dampak memanasnya kondisi geopolitik global kini mulai merembet ke meja-meja kedai kopi di Kota Kembang. Para pelaku usaha sektor food and beverage (F&B) mulai memutar otak menghadapi meroketnya harga bahan baku pendukung, terutama kemasan plastik.

Langkah adaptif salah satunya diambil oleh Ju-e Kopi, sebuah kedai kopi populer di kawasan Taman Cibeunying, Bandung. Demi menekan biaya operasional yang membengkak, pengelola kini kian gencar mengimbau para penikmat kopi untuk membawa tumbler atau wadah minum sendiri.

Kenaikan Harga Plastik Capai 40 Persen

Irfan Fitra Fauzan, pengelola Ju-e Kopi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga cup plastik saat ini sudah sangat terasa dan membebani pengeluaran harian.

“Memang sudah dari lama beberapa customer membawa tumbler saat datang untuk ngopi. Ketika harga plastik ini naik, ya dihimbau untuk membawa alat minum sendiri,” tutur Irfan

Kenaikan ini bukan main-main. Irfan mencatat lonjakan harga mencapai angka 30 hingga 40 persen. Sebagai gambaran, satu pak berisi 50 buah cup plastik yang tadinya dibanderol sekitar Rp20.000, kini sudah menyentuh angka Rp30.000.

Mengingat kedainya bisa menghabiskan tiga hingga empat pak cup dalam sehari, kenaikan ini menjadi beban biaya yang cukup signifikan. “Sehari bisa habis sampai empat pack. Jadi kerasa banget kalau harga naik,” tambahnya.

Alternatif Cup Kertas dan Gelas Kaca

Meski margin usaha saat ini dianggap masih dalam batas aman karena bahan baku lain stabil, Irfan mulai melirik opsi jangka panjang. Salah satunya adalah mengganti kemasan plastik dengan wadah berbahan kertas yang harganya relatif lebih konsisten.

“Kami juga menyediakan cup kertas yang masih belum naik, jadi bisa jadi alternatif. Tapi kalau plastik makin mahal, kemungkinan bisa beralih semua ke kertas,” jelasnya.

Tak hanya itu, penggunaan gelas kaca untuk pelanggan yang dine-in (minum di tempat) juga mulai dimaksimalkan. Namun, opsi ini memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait identitas brand dan risiko kerusakan.

“Cup plastik ini ada custom nama Ju-e Kopi sebagai branding. Kalau pakai gelas kaca, biasanya polos. Kalau mau custom juga biayanya besar, bisa Rp20-30 ribu per gelas, belum lagi harus pilih yang kuat supaya tidak mudah pecah,” beber Irfan.

Tantangan Kesadaran Konsumen

Menariknya, Irfan mencatat baru sekitar 20 persen pelanggan yang memiliki inisiatif membawa wadah minum sendiri. Uniknya, motivasi mereka pun beragam, bukan sekadar urusan lingkungan. “Yang bawa tumbler paling sekitar 20 persen. Itu pun kebanyakan bukan karena alasan lingkungan, tapi biar muat lebih banyak, biasanya ukuran 750 ml,” kelakarnya.

Irfan berharap kondisi pasar kembali stabil, namun ia juga mendorong adanya penguatan sistem daur ulang di Indonesia agar ketergantungan pada bahan baku plastik baru bisa dikurangi.

“Kalau sistem daur ulangnya berjalan baik, plastik bisa dipakai kembali tanpa harus terus impor bahan baru,” pungkasnya.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut