Pasca SNBP 2026, Relevansi Kurikulum Perguruan Tinggi Jadi Sorotan Publik
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Pasca pengumuman hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, ruang publik digital di Indonesia tidak hanya dipenuhi euforia kelulusan, tetapi juga diwarnai kekhawatiran baru dari para orang tua. Diskusi yang berkembang di media sosial seperti Threads dan X (Twitter) menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap pendidikan tinggi dan masa depan anak.
Data SNBP 2026: Persaingan Ketat, Banyak Siswa Belum Lolos
Berdasarkan data resmi, dari total 806.242 siswa yang mendaftar SNBP 2026, hanya sekitar 178.981 siswa yang berhasil lolos seleksi. Artinya, ratusan ribu calon mahasiswa harus mencari jalur alternatif untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Namun, perhatian publik kini tidak lagi hanya terfokus pada angka kelulusan. Diskusi mulai mengarah pada isu yang lebih mendalam, yakni relevansi pendidikan tinggi dalam menjawab tantangan dunia kerja modern.
Kekhawatiran Orang Tua: Kuliah Mahal, Tapi Apakah Menjamin Kerja?
Di tengah dinamika tersebut, muncul keresahan di kalangan orang tua mengenai efektivitas investasi pendidikan tinggi. Biaya kuliah yang tidak sedikit dinilai belum tentu sebanding dengan peluang kerja setelah lulus.
Isu mengenai lulusan sarjana yang menganggur atau bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan kembali mencuat. Bahkan, profesi yang selama ini dianggap stabil pun kini dinilai tidak sepenuhnya aman dari risiko pengangguran.
Kondisi ini mendorong orang tua untuk berpikir ulang, tidak hanya soal kampus atau jurusan, tetapi juga arah karier jangka panjang anak.
Editor : Agung Bakti Sarasa