Lestarikan Budaya Pencak Tradisional Tiga Gaya, Puluhan Pemain Kendang Digembleng di Lembang
BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Sebanyak 50 peserta dari berbagai wilayah di Jawa Barat mengikuti pelatihan Kendang Pencak 3 Gaya di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini menghadirkan praktisi dan budayawan tepak Pencak Ciwaringin, tepak Pencak Cimande, dan tepak Pencak Sukabumian.
"Pelatihan ini diikuti 50 peserta yang background-nya pemain kendang dari Bandung Raya hingga Banten, Purwakarta, Garut dan beberapa wilayah lainnya. Fokusnya pada tepak Pencak Ciwaringin, Cimande, dan Sukabumian," terang Ketua Umum Paguyuban Seniman Nayaga Penca (Pamenca) Jabar Banten, Dede Yanto saat ditemui usai pembukaan kegiatan pelatihan, di Lembang, Selasa (16/6/2026).
Menurutnya, dasar utama dari digelarnya Pelatihan Kendang Pencak 3 Gaya ini adalah untuk melestarikan budaya leluhur agar jangan sampai tergerus oleh perkembangan zaman. Apalagi jangan sampai generasi muda tidak mengetahui apa itu kendang pencak.
Kendang pencak sebagai iringan utama seni bela diri silat sekaligus kesenian tradisional Sunda, memiliki kekayaan dan ragam gaya yang tersebar di berbagai wilayah. Serta memiliki ciri khas masing-masing budaya setempat.
Misalnya Gaya Cimande dari wilayah Bogor dianggap sebagai salah satu yang paling tua dan menjadi induk bagi banyak pengembangan kendang pencak.
Untuk gaya Cianjur memiliki ciri khas tersendiri melalui tradisi Maenpo yang dulunya berkembang di lingkungan bangsawan dengan iringan kecapi suling.
Sedangkan tepak Pencak Sukabumian memiliki ciri khas ritme tepak tilu yang kuat dan rapat. Serta sering kali dimainkan tanpa alat musik pelengkap kutiplak, sehingga menciptakan suara yang lebih terfokus.
Dede menyebutkan, di Bandung sendiri tumbuh menjadi pusat pengembangan dan barometer utama kendang pencak. Yang menggabungkan unsur dari berbagai daerah sehingga menciptakan gaya yang lebih luwes dan sering dijadikan acuan umum berbeda dari satu daerah ke daerah lain.
Perbedaan ini bukan sekadar soal bunyi, melainkan berkaitan erat dengan sejarah, aliran pencak silat, dan nilai budaya yang kental. Namun sayangnya literasi soal hal ini masih sangat minim.
"Literasi soal kendang pencak masih sangat minim, padahal dari catatan sejarah bela diri pencak silat sendiri sudah muncul di era penjajahan meski ada pelarangan oleh kolonial," tutur Dede yang juga Praktisi Terompet Pencak ini.
Dikatakannya, bukan hanya untuk kebutuhan lokal, kendang pencak Jawa Barat juga ternyata menarik perhatian penikmat seni mancanegara terutama dari Eropa seperti Belanda.
Mereka biasanya mencari pola tabuhan asli dan keselarasan sempurna antara irama kendang dengan gerakan pencak. Sesuatu yang dianggap lebih rinci dibandingkan kesenian serupa dari daerah lain di Indonesia, seperti di Betawi atau minang.
"Ada beberapa murid saya dari Belanda yang mengaku tertarik kendang pencak Jawa Barat karena berbeda dengan daerah lain dalam hal ketukan dan iramanya. Makanya mereka secara berkala sengaja datang langsung ke sini untuk belajar," tandasnya. (*)
Editor : Rizki Maulana