Bicara di GITEX AI Asia, Chief of Digital Asset Committee Kadin Soroti Arah Investasi Global
BANDUNG,iNews BandungRaya.id - Peran Indonesia dalam lanskap Artificial Intelligence (AI) dan ekonomi digital kembali mendapat panggung di level internasional.
Chief of Digital Asset Committee Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Raine Renaldi dipercaya menjadi pembicara dalam dua sesi panel strategis di ajang GITEX AI Asia 2026 yang berlangsung pada 9–10 April 2026 lalu di Singapura.
Keikutsertaan ini menandai berlanjutnya keterlibatan Indonesia dalam forum global yang mempertemukan pelaku teknologi, regulator.
Hingga investor lintas negara di tengah meningkatnya kompetisi pengembangan AI di kawasan Asia.
Pada sesi pertama di NXT Stage dengan tema “AI for Banking”, Raine menyoroti akselerasi adopsi AI di sektor keuangan yang kini menjadi penentu efisiensi dan daya saing industri.
Ia menekankan bahwa pemanfaatan AI tidak lagi sebatas otomatisasi, melainkan telah bergeser ke arah predictive analytics, risk management berbasis data, hingga personalisasi layanan keuangan.
“Perbankan yang tidak mengadopsi AI secara strategis berisiko tertinggal, bukan hanya dari sisi efisiensi, tetapi juga dalam membaca perilaku pasar yang semakin dinamis,” ujar Raine dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Sementara itu, pada sesi kedua, Raine bergabung dengan sejumlah investor global dalam diskusi mengenai arah investasi dan dinamika startup di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ia menggarisbawahi bahwa arus modal kini semakin selektif, dengan fokus pada startup berbasis AI, fintech, serta ekosistem digital asset yang memiliki model bisnis berkelanjutan.
Dalam paparannya, Raine juga menyinggung posisi Asia Tenggara - termasuk Indonesia - yang dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan signifikan.
Namun menghadapi tantangan klasik seperti kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur digital, dan kualitas talenta teknologi.
“Investor global saat ini tidak hanya mencari pertumbuhan, tetapi juga ketahanan model bisnis. Di sinilah pentingnya sinergi antara inovasi, regulasi, dan kesiapan pasar,” jelasnya.
Partisipasi Raine dalam dua panggung berbeda di GITEX AI Asia mencerminkan meningkatnya perhatian global terhadap peran Indonesia dalam ekosistem AI dan digital economy.
Namun demikian, momentum ini juga menjadi pengingat bahwa daya saing nasional akan sangat ditentukan oleh kecepatan adaptasi terhadap teknologi dan konsistensi kebijakan.
"Keterlibatan aktif dalam forum semacam ini dinilai krusial, bukan hanya untuk membangun citra, tetapi juga untuk memastikan Indonesia tidak sekadar menjadi pasar, melainkan pemain utama dalam ekonomi digital global," pungkasnya.
GITEX AI Asia merupakan bagian dari jaringan GITEX Global - salah satu forum teknologi terbesar di dunia - yang semakin memperkuat posisinya sebagai barometer perkembangan AI, investasi teknologi, dan inovasi startup di kawasan Asia. (*)
Editor: Rizki Maulana