Banyak UMKM Gagal Ekspor Gara-gara Kemasan, Ledia Hanifa Bongkar Strategi Jitu Naik Kelas
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Sektor kuliner UMKM di Kota Bandung dituntut untuk tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga estetika dan keamanan kemasan. Hal ini menjadi sorotan utama Ledia Hanifa, Anggota Komisi X DPR RI, dalam agenda Pelatihan Teknik Pengolahan dan Pengemasan Pangan yang digelar di Kampus ASM Ariyanti, Bandung, akhir April lalu.
Menurut Ledia, pemahaman mendalam mengenai teknik pengemasan sangat krusial agar produk lokal mampu menembus pasar ritel modern hingga pasar mancanegara.
Dalam arahannya, Ledia mengingatkan para pengusaha kecil bahwa standar produk pangan tidak boleh berhenti pada sertifikasi halal semata. Aspek kualitas menyeluruh atau thayyib harus menjadi standar utama yang diperhatikan.
“Selama ini orientasi kita sering kali hanya pada aspek halal, padahal produk pangan juga harus thayyib, yakni baik secara keseluruhan. Maka pengemasan menjadi salah satu faktor penting karena berpengaruh pada kualitas produk, keamanan pangan, hingga distribusi,” ujar Ledia di hadapan perwakilan pelaku UMKM Kota Bandung.
Banyak pelaku usaha yang kerap terbentur aturan ketat saat mencoba melakukan ekspansi bisnis. Ledia menyoroti bagaimana perubahan jenis kemasan—misalnya dari plastik ke kaleng—bisa meningkatkan biaya produksi secara signifikan namun menjadi syarat mutlak untuk pasar ekspor.
Tanpa kemasan yang mumpuni, produk berkualitas tinggi sekalipun akan sulit bersaing di pasar global.
“Sering kali hal seperti ini dianggap sepele, padahal kemasan sangat menentukan daya saing produk. Produk yang baik harus didukung kemasan yang mampu menjaga kualitas, aman, informatif, dan sesuai standar pasar,” jelasnya.
Selain fisik kemasan, Sekretaris Fraksi PKS ini juga mewanti-wanti pentingnya transparansi informasi pada label produk. Sesuai undang-undang perlindungan konsumen, detail seperti:
Komposisi bahan utama.
Informasi nilai gizi.
Peringatan potensi alergen.
Untuk mendukung teknis di lapangan, pelatihan ini turut menghadirkan Dr. Asep Nurhikmat, peneliti utama dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kehadirannya bertujuan memberikan wawasan berbasis riset agar UMKM bisa menerapkan teknologi pengolahan pangan yang lebih modern.
Ledia menekankan bahwa tidak ada solusi tunggal dalam pengemasan. Setiap jenis makanan memerlukan perlakuan dan material bungkus yang berbeda-beda.
“Tidak ada satu jenis kemasan yang paling baik untuk semua produk. Setiap produk memiliki karakteristik berbeda, sehingga perlu dicoba dan disesuaikan. Ilmu yang didapat hari ini jangan hanya disimpan, tetapi harus dipraktikkan agar UMKM kita benar-benar bisa berkembang,” tuturnya.
Melalui sinergi antara kebijakan legislatif, riset dari BRIN, dan semangat inovasi para pelaku usaha, produk pangan lokal diharapkan mampu meningkatkan kapasitasnya untuk bersaing di level nasional maupun internasional.
Editor: Agung Bakti Sarasa