get app
inews
Aa Text
Read Next : Carut Marut Sengketa Tanah di Cijeruk, Putusan Pengadilan Tak Dilaksanakan

Dedi Mulyadi Diminta Melek: Siaga 1 Kali Cipamingkis Jadi Bukti Kegagalan Tata Ruang di Bogor Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 09:32 WIB
header img
Sungai Cipamingkis meluap. (Foto: Ist)

Pembangunan Pariwisata vs. Kelestarian Ekologis

Satu poin krusial yang diangkat dalam narasi tersebut adalah dugaan kerusakan ekosistem di hulu sungai. Warga menyoroti masifnya pembukaan lahan di area perbukitan untuk dijadikan tempat wisata baru. Pohon-pohon ditebang, dan resapan air berkurang drastis, yang berdampak langsung pada debit air sungai saat hujan turun.

Kritik tajam pun diarahkan kepada Gubernur Dedi Mulyadi terkait kebijakan izin lingkungan di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi dianggap lebih memprioritaskan "estetika pariwisata" dan keuntungan ekonomi jangka pendek daripada keselamatan ekologis jangka panjang bagi warga yang tinggal di hilir.

Pembangunan yang tidak terkendali di daerah resapan air Bogor Timur ini dianggap sebagai "bom waktu" yang kini mulai meledak. Gubernur Dedi Mulyadi, yang selama ini dikenal dengan citra peduli lingkungan dan kearifan lokal, kini ditantang untuk membuktikan komitmennya. Apakah retorika tentang "Jabar Juara" juga mencakup juara dalam melindungi warga pinggiran dari ancaman banjir bandang?

Potret Kegagalan Mitigasi Bencana

Kabupaten Bogor, khususnya wilayah Sukamakmur, secara topografi memang rawan bencana. Namun, status Siaga 1 yang terus berulang menunjukkan adanya kegagalan sistemik dalam mitigasi bencana di tingkat provinsi. Berikut adalah beberapa poin kegagalan yang disorot oleh para pengamat lingkungan:

  1. Lambatnya Normalisasi Sungai: Proyek penguatan tebing dan normalisasi Kali Cipamingkis seringkali terhambat oleh birokrasi dan anggaran yang tidak kunjung cair.

  2. Lemahnya Pengawasan Lahan: Izin-izin pembangunan vila dan tempat wisata di area konservasi seolah melenggang tanpa evaluasi ketat terkait dampak hidrologisnya.

  3. Respon Darurat yang Minim: Warga merasa bantuan atau tindakan pencegahan baru muncul setelah media massa menyoroti atau setelah terjadi kerusakan parah.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut