get app
inews
Aa Text
Read Next : Nelayan Bandung Barat Hilang di Waduk Saguling, Diduga Perahu Bocor saat Memancing

Wabah Nyamuk Meluas Korban Warga Semakin Banyak, Fogging Jadi Upaya Jangka Pendek

Sabtu, 16 Mei 2026 | 19:37 WIB
header img
Fogging yang dilakukan di kawasan Waduk Saguling di bantaran Desa Rancapanggung, Cililin, yang dipenuhi sampah eceng gondok diharapkan bisa memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk untuk sementara. Foto/Inews Bandung Raya

BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Wabah nyamuk yang dipicu sampah eceng gondok di Waduk Saguling di Desa Rancapanggung, Cililin, Bandung Barat, terus meluas.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak warga mengalami gangguan kesehatan mulai dari gatal-gatal kulit hingga kasus demam berdarah dengue (DBD).

Sebagai upaya memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk, upaya fogging dilakukan di RW 08 dan RW 09 Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Sabtu (16/5/2026).

Fogging diinisiasi oleh Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) Jabar dan BAGUNA PDIP Jabar. Kegiatan ini didampingi ketua RW setempat, Kepala Dusun 3 Desa Rancapanggung, kader PDIP Kecamatan Cililin Agus Rahman, dan DKM Al-Furqon Desa Rancapanggung Ustaz Acep.

Ketua FPLH Jabar sekaligus Kepala Bidang Mitigasi BAGUNA PDIP Jabar, Thio Setiowekti, mengatakan penyebaran wabah nyamuk kini semakin tidak terkendali.

“Melihat hasil asesmen FPLH Jabar dan BAGUNA PDIP Jabar pada Rabu (13/5/2026), wabah nyamuk ini sudah luar biasa karena korbannya sudah banyak,” kata Thio di sela kegiatan fogging.

Menurut dia, banyaknya nyamuk diduga dipicu penumpukan sampah eceng gondok di Waduk Saguling yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Meski fogging sudah dilakukan, penyebaran nyamuk masih tinggi karena penanganan dinilai belum dilakukan secara berkesinambungan.

“Fogging ini untuk memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk. Tapi karena dilakukan terputus-putus dan tidak terus menerus, nyamuk masih banyak,” ujarnya.

Thio menyebutkan, awalnya wabah nyamuk hanya terjadi di tiga RW. Namun kini telah meluas menjadi delapan RW dengan peningkatan yang disebut sangat signifikan.

“Sekarang sudah berkembang ke delapan RW dan banyak warga menjadi korban dengan mengalami gatal-gatal pada kulit,” katanya.

Ia mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat segera mengambil langkah serius dengan menetapkan status tanggap darurat agar seluruh pihak dapat terlibat dalam penanganan.

“Pemda KBB harus mengambil sikap karena ini kondisi luar biasa. Kalau ditetapkan status tanggap darurat akan lebih baik sehingga semua lini bisa masuk mengatasi wabah nyamuk ini,” ujar Thio.

Menurutnya, pengangkatan eceng gondok membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena volumenya sangat besar. “Jangan saling lempar tanggung jawab. Pengangkatan eceng gondok ini perlu keterlibatan semua pihak,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dusun 3 Desa Rancapanggung, Nauval Irawan, mengatakan fogging sebelumnya sudah dilakukan oleh pemerintah desa sebanyak dua kali pada pekan lalu, termasuk oleh Puskesmas Mukapayung.

“Sekarang kami sedang mengajukan lagi ke Pemda KBB,” katanya.

Menurut Nauval, fogging dari pihak desa sebelumnya dilakukan di lima RW. Namun penyebaran nyamuk terus meluas hingga kini mencapai delapan RW, yakni RW 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, dan RW 13. Bahkan, wabah nyamuk disebut mulai menyebar ke Desa Bongas dan Desa Ciririp.

“Nyamuk biasanya banyak menjelang sore hingga malam. Dampaknya ke petani banyak yang mengalami bengkak dan gatal-gatal akibat gigitan nyamuk. Ada juga yang terkena DBD,” ujarnya.

Ia menambahkan, fenomena ini diduga berkaitan dengan meningkatnya tumpukan eceng gondok di Waduk Saguling pada tahun ini.

“Tahun lalu tidak terjadi seperti sekarang. Tahun ini eceng gondok menggenang lebih banyak di Waduk Saguling sehingga warga di pinggiran waduk paling terdampak,” kata Nauval.

Keluhan serupa disampaikan warga setempat, Odin (63). Ia mengaku fogging sudah dilakukan sekitar dua kali, namun belum efektif mengurangi populasi nyamuk.

“Nyamuk mulai banyak dari jam 4 sore sampai malam, lalu pagi-pagi juga masih banyak. Kalau digigit terasa gatal dan panas, kalau digaruk meninggalkan bekas,” katanya.

Menurut Odin, fenomena wabah nyamuk seperti ini baru pertama kali terjadi di wilayahnya. “Harapannya sampah eceng gondok segera diangkat,” ujarnya.

Dampak wabah nyamuk juga dirasakan para santri di Pondok Pesantren Al Hilal, Jalan Bonceret RT 01/RW 08 Desa Rancapanggung. Salah seorang santri, Iqbal Mubarok (14), mengaku mengalami gatal-gatal sejak sekitar satu bulan terakhir akibat gigitan nyamuk.

“Kalau digaruk jadi borok. Pernah berobat ke puskesmas tapi gatal-gatalnya belum hilang,” kata siswa kelas 8 ini. (*)

Editor : Rizki Maulana

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut