Seller dan Buyer Sering Kena Scam, ITB Turun Tangan Bikin Benteng Pertahanan Siber
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Ancaman kejahatan siber di Indonesia sudah masuk tahap darurat. Kementerian Perdagangan mencatat ada sekitar 30 ribu pengaduan terkait perdagangan online di awal tahun ini saja. Angka fantastis ini menjadi alarm keras bahwa pelaku UMKM dan konsumen di tanah air sedang diintai bahaya besar.
Merespons kondisi kritis tersebut, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB menggandeng The Asia Foundation resmi meluncurkan "ITB Cybersecurity Clinic" dalam acara LaunchFest yang digelar meriah di Aula Barat ITB, Kita Bandung.
Inisiatif strategis ini dirancang khusus untuk menjadi 'perisai' bagi pelaku UMKM agar tidak terus-menerus menjadi korban empuk cyber crime.
Modus Makin Licik, Seller dan Buyer Jadi Korban
Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan mengungkapkan keprihatinan terkait celah kejahatan siber yang kini makin dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat.
"Yang jadi seller (penjual) aja musti hati-hati, banyak bayar scam. Jadi kalau dagang di marketplace, kita makin musti berhati-hati. Walaupun sudah dijaga dengan baik oleh platform, masih banyak orang yang berupaya melakukan segala macam cara untuk kejahatan siber," ucap Budi, Senin (25/5/2026).
Budi membeberkan, modus penipuan kini menyasar kedua belah pihak. Di sisi konsumen, sering kali barang yang dibeli tidak sesuai dengan yang datang. Sebaliknya, ada juga buyer nakal yang sengaja mengembalikan barang tiruan demi mengelabui penjual. Hal ini diperparah dengan minimnya literasi digital dan finansial di tengah masyarakat.
Editor : Agung Bakti Sarasa