Fenomena El Nino Ancam Ribuan Hektare Lahan Pertanian di KBB Kekurangan Air
BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat mewaspadai kemarau panjang imbas fenomena El Nino.
Berdasarkan data lapangan yang diterima potensi lahan pertanian di KBB yang terancam kekeringan mencapai sekitar 2.302 hektare.
Lahan tersebut umumnya merupakan sawah tadah hujan, kawasan tanpa jaringan irigasi, serta daerah irigasi yang mengalami kerusakan.
"Kami tengah mengantisipasi fenomena El Nino yang bisa menyebabkan kemarau panjang dan berimbas ke lahan pertanian warga," kata Kepala DKPP KBB, Lukmanul Hakim saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026).
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memperkuat infrastruktur pengairan pertanian serta menyalurkan bantuan pompanisasi untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.
Program pompanisasi massal ini diharapkan dapat mengalirkan air dari sumber-sumber air permukaan yang masih tersedia menuju lahan sawah kritis. Program tersebut merupakan bantuan yang difasilitasi Kementerian Pertanian.
"Di tahun ini kami memperoleh bantuan 122 unit pompa air. Terus sekarang pemerintah daerah juga tengah mengusulkan tambahan 43 unit pompa dengan target layanan mencapai 825 hektare lahan pertanian," sebutnya.
Selain itu untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, lanjut Lukman, Pemda KBB juga menyiapkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD).
Cadangan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana alam, kelompok rentan rawan pangan, maupun saat terjadi lonjakan harga pangan.
Dirinya mengimbau agar petani memanfaatkan seluruh sumber air yang tersedia, baik air permukaan maupun air tanah, serta tidak memaksakan penanaman apabila ketersediaan air tidak mencukupi.
Petani juga diminta menyesuaikan pola tanam dengan mengalihkan sebagian areal padi musim tanam kedua dan ketiga ke komoditas palawija yang membutuhkan lebih sedikit air.
"Penggunaan varietas padi tahan kekeringan seperti Inpari 42 dan Inpago juga terus didorong," imbuhnya.
Sementara itu di tengah ancaman kekeringan, produksi gabah Bandung Barat masih menunjukkan capaian positif. Selama periode Januari hingga Mei 2026, produksi gabah tercatat mencapai 112.351 ton Gabah Kering Panen (GKP).
Jumlah tersebut setara dengan 96.645 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau sekitar 60.615 ton beras, atau 49,4 persen dari target produksi gabah tahun 2026.
Ia mengingatkan dampak El Nino terhadap produksi pertanian tidak bisa dianggap remeh. Berdasarkan pengalaman pada 2023, produksi gabah di Bandung Barat mengalami penurunan sekitar 5-7% dari target tahunan akibat kekeringan.
Apabila intensitas kekeringan tahun ini meningkat hingga kategori ekstrem, penurunan produksi gabah diperkirakan bisa mencapai 10-15%, terutama di wilayah sawah tadah hujan.
"Kerugian terbesar biasanya terjadi akibat gagal panen atau puso pada lahan tadah hujan. Sementara pada lahan yang masih dapat dipanen, kualitas hasil panen cenderung menurun," pungkasnya.
Editor : Rizki Maulana