Mahasiswa KIP Kuliah Bandung Diajak Unjuk Gigi Lewat Inovasi Proposal Bisnis
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kalangan mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah di Kota Bandung didorong untuk menguasai keterampilan praktis di luar bidang akademik sebagai persiapan menghadapi dinamika dunia kerja yang semakin kompetitif.
Langkah ini menjadi fokus dalam rangkaian program pembinaan berkelanjutan yang digagas oleh anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa Amaliah, melalui penyelenggaraan penjurian proposal bisnis di Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan Universitas Winayamukti (Unwim) pada Ahad (19/7/2026).
Transformasi pembinaan ini merespons pergeseran kebutuhan dunia profesional yang menuntut penguasaan soft skill, terutama setelah rangkaian pelatihan sebelumnya mencakup manajemen waktu, pengelolaan emosi, hingga literasi keuangan pribadi.
Mengingat disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan turut mengubah lanskap pekerjaan, penguasaan sektor wirausaha dinilai krusial untuk melatih kemandirian finansial mahasiswa.
”Pelatihan manajemen waktunya sudah, pelatihan mengelola keuangan sudah, maka kemudian kita lanjut berlatih wirausaha agar semakin terampil dan syukur-syukur bisa mengembangkan uang saku yang diterima agar menjadi lebih bermanfaat,” kata Ledia.
Dalam prosesnya, para peserta dibimbing menyusun rancangan usaha yang mencakup analisis peluang pasar, proyeksi keuangan, hingga strategi operasional di bawah supervisi dosen pembimbing kampus.
Kompetisi ini melibatkan 12 perguruan tinggi swasta di mana setiap institusi menyaring 6 hingga 10 kelompok usaha terbaik.
Seluruh proposal dinilai oleh dewan juri dari akademisi serta praktisi bisnis dari lembaga inkubator Ideapreneur, sebelum akhirnya tiga tim unggulan dari masing-masing kampus melaju ke babak puncak pada 2 Agustus 2026 mendatang.
Selain menguji inovasi produk, ajang ini dirancang untuk membiasakan mahasiswa menghadapi tekanan persaingan dunia nyata serta melatih kemampuan komunikasi langsung di hadapan publik.
”Kenapa harus dilombakan antarkampus? Agar mahasiswa terlatih berkompetisi, sebab dalam hidup itu memang penuh kompetisi, apalagi dalam dunia bisnis. Makin diasah tentu akan makin terampil menghadapi kompetisi,” ujar Ledia.
Lebih lanjut, implementasi rancangan usaha ini menuntut perpaduan keahlian dari berbagai latar belakang bidang ilmu yang berbeda guna menciptakan ekosistem bisnis yang solid.
”Kalau bikin bisnis itu kan misalnya perlu anak fakultas hukumnya yang ngerti legalnya, terus juga perlu ada anak marketingnya supaya penjualannya bagus dan usahanya dikenal, juga anak desainnya dan lain sebagainya, jadi ini juga sebenarnya juga melatih kolaborasi,” lanjut Ledia.
Memasuki tahap final, pelibatan masyarakat umum sebagai audiens juga disiapkan agar para peserta dapat menguji langsung respon pasar serta mengukur daya terima produk rintisan mereka sebelum benar-benar melangkah ke dunia usaha mandiri.
Editor : Agung Bakti Sarasa