get app
inews
Aa Text
Read Next : Utamakan Hak Pendidikan, Wali Kota Pasang Badan Demi 900 Siswa SDN 026 Bojongloa

MMS Sebut Jumlah Sarjana di Masyarakat Sunda Kalah dari Provinsi Lain

Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:16 WIB
header img
Pinisepuh MMS dan tokoh Sunda foto bersama di acara Milangkala ke-2 MMS. (FOTO: ISTIMEWA)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Majelis Musyawarah Sunda (MMS) menekankan pentingnya peningkatan pendidikan dan kerja sama ecoregion guna mendongkrak indeks pembangunan Jawa Barat (Jabar). 

Pernyataan itu disampaikan Burhanudin Abdullah, pinisepuh MMS dalam sambutannya di acara Milangkala ke-2 MMS bertema "Pasamoan Inohong Sunda" di Gedung IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Lantai 3, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

Burhanudin mengatakan, jumlah penduduk sarjana di masyarakat Sunda kalah dari provinsi lain. "Kemudian, yang sudah sarjana, ternyata banyak menganggur karena tidak mampu berdikari dan menciptakan lapangan kerja. Karena itu, kita perlu terus berkonsilidasi untuk meningkatkan indeks pembangunan Jawa Barat," kata Burhanudin 

Selain Burhanudin Abdullah, hadir pula dua menteri asal Sunda, yakni, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wakil Mendagri Akhmad Wiyagus, Sekda Pemprov Jabar Herman Suryatman.

Pinisepuh MMS asal Banten Komjen Pol (Purn) Taufiequrachman Ruki, dan tokoh Betawi/anggota DPD RI asal Jakarta Dailami Firdaus. 

Kemudian tokoh Sunda yang pernah jadi Menteri Perhubungan (Menhub) Agum Gumelar dan Menteri/Kepala Bappenas Paskah Suzetta, Komut Pertamina M Iriawan.

Anggota DPR RI Adang Daradjatun, Eks Kapolda Metro Jaya Makbul Padmanegara, Rektor UI asal Sukabumi Prof Heri Hermansyah, Rektor Untirta Banten Prof Fattah Sulaeman.

Kemudian, pinisepuh MMS yang pernah menjadi KSAL Ade Supandi, mantan Wagub Jabar Nu'man Abdul Hakim, serta tokoh perempuan Sunda, yakni, Halimah Munawir, Eni Sumarni, dan Ella Girikomala. 

Burhanudin menuturkan, setelah berbagai kegiatan dan forum pemikiran MMS berlangsung di Kota Bandung, kini MMS membawa semangat tersebut ke Jakarta. 

Direktur Eksekutif Badan Pekerja MMS Andri Perkasa Kantaprawira mengatakan, peserta yang hadir berasal dari Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Sebab, ada hubungan sejarah di antara masyarakat tersebut.

"Tapi yang paling penting itu bahwa secara ecoregion, secara bentang alam, tiga provinsi ini saling, harus ketergantungan," tutur Burhanudin. 

Karena itu, kata Burhanudin, kita harus bisa menata ruang tiga provinsi ini dengan sebaik-baiknya. Jangan terhambat oleh batas-batas administrasi politik. 

"Karena kan tadi, Ciliwung tergantung dari Gunung Gede dan yang lain. Ini kita harus bisa membuat sebuah perencanaan pembangunan bersama," ucap Burhanudin.

Menurut Burhanudin, ketiga pemimpin di wilayah itu penting untuk bekerja sama bersama universitas atau ilmuwan dalam membangun wilayah bersama demi kesejahteraan masyarakat ke depannya.

"Yang paling penting itu jangan dipisahkan kita ini. Kalau kita bicaranya Jakarta saja, Jawa Barat saja, Banten saja, itu menjadi satu kelemahan. Itu harus dibangun oleh para pemimpin," ujar Burhanudin. 

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, kearifan lokal penting dalam pembangunan. 

"Saya rasa memperjuangkan SARA itu mulia. Tapi menindas SARA nista. Jadi suku, agama, ras, dan antargolongan orang boleh memperbaiki terus-menerus. Yang punya suku Sunda, memperbaiki kesundaannya yang baik supaya sejahtera. Suku Jawa, suku Sasak, suku apa pun," kata Jumhur. 

Menurut Jumhur, yang tidak boleh dilakukan adalah menindas dan menistakan atas nama SARA. Pandangan sinis atas nama SARA tidak boleh dilakukan.

"Nih salah satunya MMS berkhidmat untuk masyarakat Sunda. Mungkin beberapa yang masih ketinggalan dalam pembangunan. Kita sama-sama dorong supaya lebih merata dan maju. Jadi itu tujuannya baik sekali," ujar Jumhur.

Jumhur juga mengingatkan pentingnya pemerataan pembangunan. Selain itu, dia juga mengingatkan pentingnya kearifan lokal dalam pembangunan.

"Karena setiap pembangunan pemerataan pasti ada local wisdom yang dimanfaatkan. Pembangunan tanpa memanfaatkan local wisdom atau kearifan lokal itu akan apa hampa, tertinggal dan tercerabut dari akarnya," tutur Jumhur.

Editor : Abdul Basir

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut