Teknologi Vaksin Indonesia Mulai Mendunia, India hingga Afrika Jadi Tujuan Transfer
Transfer Teknologi Sekaligus Diplomasi Kesehatan
Shadiq mengatakan, kerja sama transfer teknologi tidak hanya memberikan manfaat dari sisi bisnis. Hubungan tersebut juga menjadi bagian dari diplomasi kesehatan yang ingin dikembangkan Indonesia melalui industri farmasi nasional.
“Jadi ini ada hubungan antara kedua negara, kalau keuntungan bisnis pasti tetap ada,” katanya.
Untuk kerja sama di kawasan Afrika, Bio Farma turut memberikan formulasi dalam bentuk setengah jadi. Selanjutnya, perusahaan di negara mitra dapat melakukan tahapan pencampuran sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
Dengan pola tersebut, kerja sama tidak hanya berorientasi pada pengiriman produk jadi, tetapi juga mendorong peningkatan kemampuan industri farmasi di negara mitra.
Bio-TCV Mulai Dibidik untuk Pasar Global
Di sisi lain, Bio Farma juga terus memperluas portofolio vaksin. Salah satu produk terbaru yang dikembangkan adalah Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat untuk mencegah penyakit tifoid.
Dalam materi Bio Farma, Bio-TCV diarahkan tidak hanya untuk penguatan pasar nasional, tetapi juga ekspansi ke pasar global melalui proses prakualifikasi WHO. Sejumlah negara disebut telah menunjukkan minat, antara lain Malaysia, Filipina, Nigeria, Zimbabwe, Pakistan, Bangladesh, dan Nepal.
Shadiq mengatakan, Bio-TCV juga telah didaftarkan di luar negeri sebagai bagian dari upaya membuka akses pasar internasional.
“Ini juga sebagai usaha kami untuk memenuhi kebutuhan daripada masyarakat di dunia,” ujar Shadiq.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Bio Farma untuk mengembangkan industri vaksin nasional sekaligus memperluas peran perusahaan dalam memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di berbagai negara.
Melalui transfer teknologi dan ekspansi produk vaksin, Bio Farma menempatkan pengembangan industri farmasi tidak hanya sebagai aktivitas bisnis, tetapi juga sebagai bagian dari upaya membangun kerja sama kesehatan antarnegara.
Editor: Rizal Fadillah