Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Penataan Kawasan Hijau, Bangli di Jalur Provinsi Bandung-Subang Dihancurkan
Advertisement . Scroll to see content

Menteri LH Sebut Ekotourism Jadi Magnet bagi Wisatawan, Sekaligus Memuliakan Alam

Rabu, 30 September 2026 | 18:51 WIB
  • author Adi Haryanto
Menteri LH Sebut Ekotourism Jadi Magnet bagi Wisatawan, Sekaligus Memuliakan Alam
Menteri Lingkungan Hidup, Muhammad Jumhur Hidayat didampingi Chairman EIGER Nature, Ronny Lukito saat melakukan penanaman pohon di kawasan Dusun Bambu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Foto/Istimewa

BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id -Konsep pengembangan ekotourism harus dikembangkan pelaku usaha di sektor pariwisata untuk menarik wisatawan.

Sehingga wisata bukan hanya sekadar mengelola alam untuk dikunjungi, namun harus menjadikannya sekutu dalam pemulihan lingkungan sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar.

"Pemerintah mendorong model pengembangan ekotourism yang memadukan kegiatan ekonomi dengan pelestarian alam, dan mengajak dunia usaha serta masyarakat berkolaborasi agar kekayaan hayati terjaga dan bermanfaat secara berkelanjutan," kata Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (Menteri LH/KBPLH), Muhammad Jumhur Hidayat, saat meninjau kawasan Dusun Bambu, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (29/9/2026) sore.

Pada kunjungannya itu, Jumhur menilai Dusun Bambu dapat menjadi rujukan nyata bagi daerah dan pelaku usaha lain. Bagaimana kawasan yang dulunya gersang dan rentan erosi kini berubah menjadi hutan buatan yang rimbun dan bernilai ekonomi.

Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan tak harus berjalan sendirian. Tapi bisa berjalan beriringan dengan pertumbuhan usaha, penciptaan lapangan kerja, serta kesadaran lingkungan di kalangan pengunjung.

Konsep ini harus menjadi contoh bagaimana pemanfaatan kawasan dapat berjalan seiring dengan pemulihan lingkungan sekitar. Kawasan yang awalnya rentan mengalami erosi, kini jadi rimbun setelah dilakukan penanaman pohon.

"Ini menjadi contoh usaha membangun ekonomi sirkular sambil memuliakan alam. Bisnis sambil menyelamatkan lingkungan, serta mengajak masyarakat untuk gandrung (menyukai) ekotourism," ucapnya.

Berkaca dari Dusun Bambu, spirit yang sama kini diperluas ke kawasan lain melalui inisiatif EIGER Nature di Megamendung, Kabupaten Bogor. Kedua kawasan ini lahir dari gagasan Ronny Lukito, Chairman EIGER Nature, yang meyakini kedekatan manusia dengan alam menjadi kunci terjaganya lingkungan.

Bagi EIGER Nature, ekowisata bukan sekadar destinasi rekreasi, namun ruang restorasi, konservasi, edukasi, sekaligus pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi.

"Sebagai brand yang lahir di Jawa Barat, kami ingin memberikan sumbangsih melalui ekowisata, inisiatif berbasis alam yang mengintegrasikan restorasi, konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat," kata Ronny saat mendampingi Menteri LH Muhammad Jumhur Hidayat.

Ia menyebutkan, fokus utama EIGER Nature juga ditujukan bagi generasi muda. Tujuannya kehadiran kawasan ini dapat mengajak anak-anak dan pemuda untuk bersentuhan langsung dengan alam, memahaminya, dan akhirnya tumbuh menjadi pelindung lingkungan yang bertanggung jawab.

"Saya berharap generasi muda dapat semakin dekat dan bersentuhan dengan alam, serta belajar dari alam. Sebab ketika kita semakin mengenal alam, maka akan semakin memahami pentingnya menjaga dan merawatnya," tuturnya.

Langkah nyata sudah dilakukan pihaknya sejak 2021. Di kawasan lahan kritis milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 yang kini dikelola, serta di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), EIGER Nature telah menanam lebih dari 120 ribu pohon dan perdu, serta lebih dari 8 juta tanaman semak dan penutup tanah.

Angka itu menunjukkan skala restorasi yang sesungguhnya, yakni mengembalikan kesuburan tanah, menahan air, menyediakan habitat satwa, sekaligus menata kembali bentang alam yang sempat rusak.

Mengingat alam tidak hanya dijadikan objek foto atau tempat rekreasi, tetapi mitra yang harus dipulihkan, dihormati, dan dijaga.

Adapun keuntungan yang diperoleh dari bisnis, lalu dikembalikan untuk menjaga kelestariannya, sehingga manfaatnya terus mengalir bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

"Alam dapat menjadi ruang untuk menggerakkan kehidupan, selama manusia hadir untuk menjaga, memulihkan, dan belajar darinya," tandasnya. (*)

Editor: Rizki Maulana

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut