Bukan Sekadar Terang, Pengamat Unpad Ungkap Peran Vital Listrik bagi Ekonomi Daerah
Kehadiran aliran listrik di suatu wilayah kerap dipandang sebelah mata hanya sebatas lampu yang menyala di malam hari. Padahal, bagi roda bisnis dan perekonomian modern, urusan kelistrikan jauh lebih dalam dari sekadar ada atau padam.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata, membeberkan bahwa jaminan pasokan energi yang stabil merupakan fondasi vital dalam mendongkrak daya saing daerah sekaligus menarik minat investor masuk. Menurutnya, kalangan dunia usaha menuntut standar keandalan yang presisi sesuai karakter operasional mereka.
“Listrik bagi dunia usaha bukan hanya soal ada atau tidak ada saja, melainkan soal andal atau tidaknya listrik tersebut,” ujar Bonti.
Kebutuhan akan suplai energi yang stabil ini kini merambah berbagai sektor vital—mulai dari pabrik industri skala besar, UMKM, fasilitas kesehatan, pusat data, hingga sektor agraris dan kelautan. Masing-masing bidang punya karakter unik: kawasan industri butuh daya raksasa untuk mesin produksi, sektor pertanian mengandalkan pompa irigasi, sementara sektor perikanan sangat bergantung pada pasokan listrik untuk fasilitas pendingin (cold storage).
“Karena itu, keandalan listrik harus dilihat sebagai bagian dari infrastruktur ekonomi dan daya saing daerah dan negara,” imbuhnya.
Laju kebutuhan energi yang kian kompleks ini menuntut kesiapan proyeksi jangka panjang yang matang. Peta jalan nasional melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025–2034 tercatat telah memperhitungkan ekspansi sektor-sektor strategis, termasuk hilirisasi komoditas, pusat data, adopsi kendaraan listrik, hingga kawasan industri baru.
Di tingkat regional, arah kebijakan tersebut diterjemahkan melalui kesiapan infrastruktur kelistrikan lokal. Sebagai contoh nyata di Jawa Barat, PLN UID Jawa Barat memperkuat suplai masif hingga 250 MVA khusus untuk mendukung ekspansi besar pabrik kertas IKPP di Karawang.
Kendati demikian, Bonti menekankan bahwa sinkronisasi pasokan energi dengan geliat ekonomi daerah tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi erat lintas sektor yang melibatkan PLN, pemerintah pusat, pemda, serta para pelaku usaha.
“Kalau semua data itu disatukan, kita bisa membangun listrik tepat kapasitas, tepat lokasi, dan tepat waktu,” ucap Bonti. Perencanaan yang matang semacam ini krusial agar pembangunan infrastruktur energi tidak berjalan terpisah dari arah pertumbuhan ekonomi wilayah setempat.
Lebih lanjut, Bonti mendorong adanya pergeseran cara pandang dalam pemanfaatan infrastruktur kelistrikan di tengah masyarakat.
“Pendekatannya perlu diubah dari ‘listrik masuk’ menjadi ‘listrik menghasilkan’,” tegasnya.
Artinya, ketika energi listrik dialirkan untuk menggerakkan mesin produksi, mendigitalisasi layanan, mengolah hasil bumi, hingga memperlancar proses penyimpanan produk, nilai gunanya akan berlipat ganda. Rantai nilai ekonomi ini pada akhirnya bermuara pada lonjakan produktivitas, penciptaan lapangan kerja baru, kenaikan pendapatan warga, serta perluasan peluang investasi di daerah.
Editor: Agung Bakti Sarasa