Bukan Sekadar Nyala Lampu, Ekonom Unisba Ungkap Cara Ampuh Putus Lingkaran Kemiskinan Lewat Listrik
Dengan masuknya aliran listrik, batasan waktu tersebut otomatis lenyap. Dari sektor pendidikan, anak-anak dari keluarga prasejahtera kini memiliki keleluasaan untuk belajar di malam hari dengan pencahayaan yang layak. Mereka juga bisa memanfaatkan berbagai perangkat teknologi informasi guna menunjang proses belajar-mengajar.
Sementara itu dari sudut pandang ekonomi, ketersediaan energi membuka peluang emas bagi masyarakat untuk merintis atau mengembangkan usaha skala rumah tangga. Berbagai mesin produksi, peralatan menjahit, lemari pendingin, hingga instrumen penunjang usaha lainnya dapat dioperasikan secara maksimal setiap saat.
Peluang tersebut diyakini mampu mendongkrak produktivitas warga dan menciptakan sumber pendapatan baru bagi dapur keluarga. Oleh karena itu, Ade memandang inisiatif penyambungan daya listrik ini melampaui konsep bantuan sosial konvensional.
“Ini sebetulnya bukan sekadar bantuan sosial biasa. Menurut saya, ini merupakan investasi pemberdayaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyarankan agar efektivitas program semacam ini tidak hanya dinilai dari kuantitas rumah yang berhasil dialiri listrik. Parameter keberhasilan juga harus mencakup transformasi nyata pada kebiasaan belajar anak, lonjakan produktivitas harian, serta perkembangan unit usaha milik warga penerima bantuan.
Langkah strategis yang diterapkan oleh PLN UID Jawa Barat ini dinilai sejalan dengan visi global Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin ketujuh yang mengusung misi penyediaan energi bersih yang terjangkau.
Pada akhirnya, pemerataan akses kelistrikan dapat bertransformasi menjadi batu loncatan yang kokoh bagi masyarakat bawah guna merajut kemandirian ekonomi secara berkesinambungan.
Editor: Agung Bakti Sarasa