Terancam Alih Fungsi Lahan Jadi Vila, Hutan Megamendung Jadi Benteng Terakhir Ratusan Burung Migran
Ady menaruh harapan besar agar sinergi bersama Burung Indonesia dan Raptor Indonesia membuka pintu kolaborasi yang lebih luas bagi para pemerhati lingkungan dan peneliti untuk menggelar riset di Hutan Paseban. Ia pun mengetuk hati warga sekitar agar bahu-membahu merawat kelestarian hutan demi melindungi satwa lokal maupun musafir langit yang mampir sejenak.
Urgensi Ekosistem Terjaga untuk Jalur Migrasi
Ketua Burung Indonesia, Dian Agista, menilai keberadaan tutupan vegetasi hutan serta tata kelola di Paseban mampu menghadirkan area transit yang aman bagi burung pemangsa perantau. Dian menjelaskan, keberhasilan fase migrasi sangat bergantung pada ketersediaan ruang aman untuk rehat dan mencari makan di sepanjang jalur terbang. Oleh sebab itu, pemantauan berkala tiap musim migrasi menjadi krusial sebagai dasar rekomendasi tata kelola habitat di tingkat nasional maupun global.
“Tanpa habitat, tanpa ekosistem yang memadai, itu tidak akan terjadi secara utuh. Jadi memang diperlukan alam yang terjaga,” ujar Dian.
Ia turut mengajak publik luas untuk mengagumi keindahan burung di alam bebas serta bergabung dalam wadah komunitas pengamat guna memperkuat pemantauan dan edukasi lingkungan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Raptor Indonesia, Zaini Rakhman, memaparkan bahwa kelompok raptor umumnya terbang melintasi angkasa pada siang hari memanfaatkan dorongan angin termal (udara panas) untuk menghemat energi dalam perjalanan jauh. Maka dari itu, keutuhan bentang alam dan koridor udara wajib dijaga bersama. Zaini mengapresiasi inisiatif pemantauan di Paseban dan berharap aksi ini rutin dilaksanakan.
“Saya berharap ini diselenggarakan setiap tahun, jadi kita dapat memetakan pergerakan mereka itu ke mana,” ujar Zaini.
Zaini menegaskan, kerja-kerja konservasi membutuhkan konsistensi, kolaborasi lintas pihak, dan proses regenerasi. Dokumentasi lapangan oleh publik—termasuk kalangan muda dari bermacam latar belakang—dapat menjadi bukti ilmiah berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan avifauna.
Guna memantapkan pemahaman, agenda ini diselingi sesi edukasi dan diskusi ilmiah. Ady Kristanto membawakan topik migrasi burung serta posisi strategis Indonesia sebagai tempat persinggahan. Selanjutnya, Jihad Sulfani Udin dari Burung Indonesia mengulas koridor migrasi internasional dan kerja sama global, sementara Usep Suparman dari RAIN membagikan panduan teknis identifikasi dan pencatatan raptor.
Editor: Agung Bakti Sarasa