Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Penataan Kawasan Hijau, Bangli di Jalur Provinsi Bandung-Subang Dihancurkan
Advertisement . Scroll to see content

ITB dan FPLH Kembangkan Ekonomi Sirkular Sektor Pertanian di Lembang dengan Memanfaatkan Biogas

Kamis, 29 Oktober 2026 | 14:41 WIB
  • author Adi Haryanto
ITB dan FPLH Kembangkan Ekonomi Sirkular Sektor Pertanian di Lembang dengan Memanfaatkan Biogas
Penyerahan mesin pengering program Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB ke FPLH di Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, KBB, Kamis (29/10/2026). Foto/Inews Bandung Raya

BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Forum Penyelamat Lingkungan Hidup (FPLH) merancang ekonomi sirkular sektor pertanian.

Langkah konkret tersebut diwujudkan melalui penyerahan mesin pengering hasil pertanian yang ditenagai oleh energi biogas dari pengolahan kotoran hewan (kohe) sapi di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Penyerahan mesin pengering melalui program Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB kepada FPLH dilakukan di Demplot FPLH, Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (29/10/2026).

"Kolaborasi antara ITB dan FPLH ini telah berjalan tiga tahun terakhir dengan melibatkan para pemilik peternakan sapi setempat. Program ini berfokus pada penyelesaian masalah lingkungan sekaligus peningkatan nilai tambah ekonomi melalui inovasi teknologi," kata Dosen Teknik Kimia dan Teknik Pangan ITB, Dr. Helen Julian usai penyerahan mesin pengering.

Ia menjelaskan, limbah kotoran sapi di Lembang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan. Kini coba diolah menjadi energi alternatif berupa biogas dan menjadi sumber energi terbarukan dan dimanfaatkan untuk mengoperasikan mesin pengering guna mengolah hasil pertanian dan perkebunan.

Hadirnya fasilitas ini menambah daftar mesin pengering yang sudah diserahkan dan beroperasi di Lembang. Yakni di Cibodas, di Kelompok Tani (Poktan) Melati Jayagiri, dan yang terbaru di Demplot FPLH Kampung Babakan Ampera.

Mesin ini bisa dimanfaatkan untuk mengeringkan hasil pertanian dari tanaman stevia. Daunnya dikenal luas sebagai pemanis alami pengganti gula.

Melalui proses pengeringan menggunakan mesin bertenaga biogas tersebut, kualitas daun stevia dapat terjaga dengan baik sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

"Semoga fasilitas ini bermanfaat ekonomi, masyarakat lain juga bisa bergabung memanfaatkan teknologi yang sudah ada. Kemudian lingkungan di Lembang terjaga, banjir dari kotoran hewan tidak terjadi lagi," tambahnya.

Ketua Forum Penyelamat Lingkungan Hidup Jawa Barat, Thio Setiowekti menyambut baik kolaborasi jangka panjang ini. Menurutnya, pemanfaatan mesin pengering tidak hanya terbatas pada daun stevia, melainkan juga dapat digunakan untuk mengeringkan komoditas unggulan lainnya seperti kopi dan jeruk.

"Ini simbiosis mutualisme, di mana kohe diolah jadi biogas. Adanya mesin pengering otomatis membuat proses pengeringan hasil pertanian jadi tidak tergantung cuaca," ungkapnya.

Ia menilai, program ini mengusung konsep pembangunan sirkular ekonomi yang mampu menyelamatkan kawasan hutan sekaligus memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat melalui budidaya tanaman stevia.

Thio menyebut stevia sebagai tanaman konservasi yang sangat potensial. Selain dapat ditanam di lahan terbatas milik warga karena memiliki nilai jual tinggi, tanaman ini juga cukup ditanam sekali namun dapat dipanen dalam jangka panjang, sehingga bisa diandalkan sebagai mata pencaharian sehari-hari.

"Konsepnya kemandirian energi, jadi tempat pusat ekonomi UMKM bukan hanya stevia saja," tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Presidium FPLH Oman Suherman menyatakan, seluruh stakeholder di Desa Jayagiri memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ekonomi sirkular bersama ITB ini.

Apalahi FPLH sendiri tercatat telah lama menjadi mitra strategis dari ITB dan Unpad sejak lembaga tersebut didirikan pada tahun 2004.

Pihaknya akan mengoptimalkan setiap bantuan yang didapat guna menjadikan Desa Jayagiri sebagai demplot percontohan yang nantinya dapat ditularkan ke daerah lain.

Sebagai langkah lanjutan, FPLH berencana mengembangkan penanaman 20 ribu bibit stevia di Jayagiri, sebab daun stevia ke depan akan sangat prospektif. Stevia hasilnya akan optimal ketika ditanam di ketinggian 800-1.200 meter, makin tinggi makin baik kadar gulanya.

Di wilayah Jayagiri ini sangat optimal, maka kadar gulanya baik dan nilai ekonomi daunnya ketika kering akan sangat baik. "Jadi ekonomi sirkular berjalan, hutan akan lestari, ekonomi masyarakat meningkat, dan kotoran hewan jadi biogas untuk dimanfaatkan," pungkasnya. (*)

Editor: Rizki Maulana

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut