Kota Bandung Juara Umum Pertandingan Xiangqi Eksibisi Porprov XV Jabar, Raih 3 Emas-3 Perak
Xiangqi, tutur Sandy, berbeda dari catur biasa. Karena yang tertinggi dalam permainan catur Xiangqi adalah jenderal. Jadi yang memainkannya adalah raja atau yang lebih besar dari jenderal. Dampak positif dari permainan ini, pemain Xiangqi, terutama anak-anak, semakin percaya diri. Sebab secara filosofi, pemain Xiangqi adalah raja, pemimpin.
"Saya amati para pemain Xiangqi, khususnya anak-anak, luar biasa perubahannya. Mereka yang tadinya lugu, menjadi lebih percaya diri dalam kehidupan sehari-hari. Kami berharap ada perhatian pemerintah untuk mengembangkan Xiangqi," tutur Sandy.
Sandy melihat catur Xiangqi sangat positif buat bangsa. Dia mencontohkan, 80 persen orang Vietnam memainkan Xiangqi. Hasilnya, saat perang melawan Amerika, bangsa Vietnam memiliki strategi sangat kuat sehingga tidak bisa dikalahkan.
"Lihat pembangunan yang masif luar biasa di Tiongkok (China). Mereka bisa membangun satu perumahan highrise building dalam satu bulan untuk 87 tingkat, itu butuh satu strategi yang benar. Mungkin dari latihan ini (Xiangqi)," ucapnya.
Untuk memasyarakatkan Xiangqi, ujar Sandy, Pengda Cabor Xiangqi Jabar akan memperbanyak kompetisi. Selain itu, bergabung dengan Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi). "Kami aktif ikut kejurda (kejuaraan daerah) dan kejurnas (kejuaraan nasional) setiap tahun," ujar Sandy.
Untuk diketahui catur Xiangqi berasal dari zaman feudal di China, kira-kira tahun 569 Sebelum Masehi. Catatan resmi tentang Xiangqi muncul pada Zaman Berperang di China.
Xiangqi yang juga memiliki sebutan Xiangxi atau Ju Zhong Xi, berevolusi dari sejenis judi sebelum Dinasti Qin dan sejenis Catur Enam yang populer pada penghujung Zaman Berperang Chungiu pada 770 Sebelum Masehi hingga 476 Sebelum Masehi.
Catur Xiangqi bukan diciptakan oleh seseorang, melainkan lahir dair perkembangan sejarah dan budaya. Sampai sekarang, Xiangqi masih popupler dan digemari masyarakat China. Kedudukannya sama dengan seni tradisional China lainnya. Seperti alat musik, kaligrafi, dan lukisan.
Editor: Abdul Basir