Selain penanganan jangka pendek, tutur Metty, siapkan solusi jangka menengah dan ke depan, termasuk pemanfaatan teknologi pertanian ramah lingkungan.
"Tingkatan kapasitas petani dalam menghadapi risiko perubahan iklim dan serangan organisme pengganggu tanaman. Ini harus menjadi perhatian kita bersama," tuturnya.
DPRD Cianjur, kata Metty, berkomitmen mengawal kebijakan anggaran dan program pertanian agar berpihak pada perlindungan petani.
"Kami mendorong optimalisasi asuransi pertanian, sehingga kejadian gagal panen tidak lagi sepenuhnya menjadi beban petani di masa mendatang," ucapnya.
Sebelumnya, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Cianjur menyatakan telah mendata lahan pertanian yang gagal panen di Ciranjang.
Pendataan dilakukan untuk memastikan luas lahan terdampak sekaligus mengidentifikasi penyebab utama kegagalan panen tersebut.
Berdasarkan hasil sementara dinas, gagal panen dipicu oleh serangan hama burung pipit dan penyakit tanaman yang menyerang padi saat berusia sekitar 45 hari setelah tanam.
Kondisi tersebut diperparah oleh pola tanam yang tidak serempak, sehingga tanaman menjadi lebih rentan terhadap gangguan hama.
Editor : Agus Warsudi
Artikel Terkait
