CIANJUR, iNewsBandungRaya.id - Ketua DPRD Cianjur Metty Triantika sangat prihatin terhadap perkelahian antarpelajar di Cianjur terus terjadi. Untuk mengatasi persoalan itu, Metty mengusulkan pendekatan keibuan dan penguatan pendidikan karakter terhadap pelajar.
Diketahui, belum lama ini, 10 pelajar SMP dan SMA di Cianjur selatan diamankan polisi. Anak-anak sekolah itu viral di media sosial setelah video rekaman duel dua lawan dua beredar. Satu dari 10 pelajar yang terlibat duel tersebut mengalami luka serius.
Metty menilai insiden tersebut bukan peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola kekerasan pelajar yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir.
“Kondisi ini menjadi alarm bagi kita semua dan menunjukkan ada persoalan mendasar dalam pembinaan karakter, pengawasan lingkungan pergaulan, dan pendampingan emosional anak-anak usia sekolah,” kata Ketua DPRD Cianjur, Kamis (22/1/2026).
Menurut Bendahara Umum DPD Partai Golkar Jabar itu, setiap kasus perkelahian pelajar harus dibaca sebagai alarm sosial. Anak-anak, ujar Metty, tidak lahir dengan kecenderungan kekerasan.
Tetapi mereka dibentuk oleh lingkungan, pola asuh, dan ruang sosial yang gagal memberi teladan serta rasa aman. Karena itu, dia menekankan pentingnya melihat persoalan ini diselesaikan secara utuh, tidak parsial.
“Sebagai pimpinan DPRD, kami mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian mengamankan para pelajar untuk mencegah konflik meluas. Namun proses penanganan anak harus mengedepankan prinsip perlindungan anak, pembinaan, dan pemulihan, bukan pendekatan represif semata,” ujar Metty.
Ketua DPRD Cianjur Metty Triantika. (FOTO: ISTIMEWA)
Penguatan Pendidikan Karakter
Ketua DPRD Cianjur yang juga aktivis perempuan dan ibu ini, mengaku tersentuh secara personal melihat anak-anak usia pelajar terlibat kekerasan fisik.
"Para pelajar tersebut adalah anak-anak yang memiliki masa depan panjang dan tidak boleh kehilangan arah hanya karena kegagalan sistem pendampingan," kata Metty.
Karena itu, Metty mendorong penguatan pendidikan karakter secara nyata di sekolah, dimulai dari relasi guru dan murid yang lebih humanis, kehadiran konselor sekolah yang aktif, serta keterlibatan orang tua yang berkelanjutan.
Pendidikan, kata Metty, tidak cukup hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga harus membentuk kedewasaan emosi dan empati sosial.
Selain itu, Metty menyoroti peran media sosial yang kerap menjadi pemicu adu gengsi dan tantangan kekerasan di kalangan remaja.
Dia mendorong peningkatan literasi digital agar pelajar mampu berpikir kritis, tidak mudah terprovokasi, dan berani menolak budaya kekerasan.
Metty menegaskan komitmen DPRD Kabupaten Cianjur untuk mendorong sinergi lintas sektor antara pemerintah daerah, dunia pendidikan, tokoh masyarakat, dan aparat penegak hukum.
“Kami tentu saja berharap penanganan kasus ini menjadi momentum bersama untuk membangun lingkungan yang lebih aman, peduli, dan manusiawi bagi tumbuh kembang generasi muda Cianjur,” ujar Metty.
Editor : Agus Warsudi
Artikel Terkait
