“Awalnya memang secara klasikal, tetapi setelah itu pembelajaran dilakukan satu per satu agar lebih fokus menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa,” jelas Tine yang telah mengabdi selama dua dekade lebih di bidang ini.
Tantangan Sensivitas Jari di Usia Dewasa
Tine menceritakan bahwa mengajar orang dewasa yang baru mengalami kebutaan memiliki tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan mereka yang tunanetra sejak lahir. Masalah utamanya terletak pada aspek biologis: kepekaan kulit ujung jari.
“Tantangan terbesar biasanya pada kepekaan perabaan. Kalau sudah dewasa, kadang kepekaan jari untuk membaca Braille tidak sepeka yang sejak lahir. Karena itu banyak yang memilih menghafal. Tapi kalau mereka punya semangat tetap bisa belajar membaca,” ungkapnya.
Namun, dedikasi Tine selama 20 tahun tidak sia-sia. Ia menyaksikan lahirnya generasi baru pendidik dari kalangan disabilitas sendiri. “Paling mengharukan, banyak alumni dari Sentra Wyata Guna yang sekarang menjadi ustaz dan bahkan mengajar juga di sini. Mereka menjadi penerus kami,” kenang Tine dengan penuh haru.
Mimpi Fajar: Dari Jari Menuju Hati
Bagi Fajar pribadi, awal perkenalannya dengan Al-Qur’an Braille sempat diwarnai kebingungan. Membedakan pola titik-titik kecil yang tampak serupa adalah fase tersulit yang ia lalui.
“Awal-awal paling susah mengenali hurufnya. Ini huruf apa, titiknya apa. Tapi kalau terus dilatih, lama-lama bisa,” tutur Fajar. Semangatnya dipicu oleh rasa rindu yang mendalam untuk bisa mengaji layaknya orang-orang dengan penglihatan normal.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
