Tekanan Domestik: Subsidi BBM Jadi "Simalakama"
Di sisi lain, Indonesia menghadapi tantangan fiskal yang berat. Melambungnya harga minyak mentah dunia hingga menyentuh 113 dolar AS per barel—jauh melampaui asumsi APBN 2026 yang hanya 70 dolar AS per barel—memberikan tekanan luar biasa pada anggaran negara.
Skema subsidi berbasis komoditas yang saat ini berjalan dinilai masih memiliki celah besar, di mana kelompok masyarakat mampu masih bisa mengonsumsi BBM bersubsidi tanpa pembatasan ketat. Hal ini memicu ketimpangan distribusi yang merugikan kelompok rentan seperti nelayan.
Ibrahim menegaskan bahwa ketergantungan pada impor minyak membuat posisi Indonesia kian terjepit.
"Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi kondisi fiskal Indonesia di tengah ketergantungan tinggi pada impor BBM. Kenaikan harga yang jauh di atas asumsi APBN memperbesar beban subsidi energi," ungkapnya.
Proyeksi Esok Hari: Rupiah Masih Akan Bergetar
Dengan ruang fiskal yang semakin sempit dan minimnya opsi efisiensi dalam jangka pendek, rupiah diprediksi belum akan beranjak dari zona merah. Fokus pasar kini tertuju pada data inflasi Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat mendatang sebagai kompas arah suku bunga The Fed.
Ibrahim memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah untuk perdagangan selanjutnya akan tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
