Warga Bogor Barat Ancam 'Cerai' dari Jabar: Pilih Gabung Banten Jika Aspirasi Terus Diabaikan

Aga Gustiana
Demo Warga Bogor bagian barat, ancam memisahkan diri dari Jawa Barat. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Tensi politik dan sosial di ujung barat Kabupaten Bogor memanas. Ratusan warga yang berasal dari poros Rumpin, Cigudeg, hingga Parungpanjang mengepung Kantor Bupati Bogor pada Senin (4/5/2026). Mereka membawa tuntutan radikal: Meminta wilayah Bogor Barat memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat dan bergabung dengan Provinsi Banten.

Massa yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat ini menilai Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan "pengabaian sistematis" terhadap pembangunan di wilayah mereka. Isu kemacetan, polusi tambang, hingga ketimpangan ekonomi menjadi pemantik utama ledakan amarah warga tersebut.

Gugatan Terhadap Janji Manis Gubernur

Aksi massa ini bukan tanpa sebab. Sejak siang hari, para demonstran menyuarakan kegelisahan mereka terkait karut-marut regulasi pertambangan yang tak kunjung usai. Warga merasa terjebak di antara dua pilihan sulit: polusi udara dan kerusakan jalan akibat truk tambang, atau kebijakan pembatasan jam operasional yang mematikan pendapatan ekonomi lokal.

Pembangunan jalur khusus tambang yang telah dijanjikan bertahun-tahun dianggap hanya menjadi "proyek hantu" yang tak kunjung terealisasi secara utuh.

"Kami datang ke sini bukan untuk hura-hura. Kami menagih janji yang selama ini hanya menjadi angin surga. Gubernur Jawa Barat seolah menutup mata terhadap penderitaan kami yang ada di ujung barat provinsi ini," teriak salah satu orator dari atas mobil komando.

Opsi Gabung Banten: Bukan Sekadar Gertakan?

Narasi mengenai perpindahan administrasi wilayah ke Provinsi Banten menjadi sorotan utama dalam unjuk rasa kali ini. Koordinator aksi, Fadlan, menegaskan bahwa kedekatan geografis dan kesamaan kultur membuat opsi bergabung dengan Banten menjadi sangat rasional bagi mereka.

Fadlan menilai, selama ini Bogor Barat hanya dianggap sebagai penyumbang sumber daya alam tanpa mendapatkan timbal balik pembangunan yang setimpal. Ia mengibaratkan wilayahnya seperti "anak tiri" yang ditinggalkan dalam kondisi rusak.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network