Namun, Farhan memberikan catatan keras agar efisiensi tersebut tidak dilakukan dengan cara memangkas standar pengelolaan lingkungan. Ia mengingatkan para pengusaha tahu untuk tetap berkomitmen menjaga kebersihan lingkungan sekitar tempat produksi.
“Salah satu bentuk efisiensi produksinya adalah pastikan pembuangan limbahnya tidak mencemari lingkungan. Karena kalau mencemari lingkungan, mau tidak mau kita berikan sanksi. Ketika sanksi itu terjadi, biaya produksi naik,” jelasnya.
“Jadi jangan sampai melanggar pencemaran lingkungan untuk limbah dari tahu, sehingga tetap efisien, ya,” lanjutnya.
Subsidi Transportasi Masih Berjalan
Di sisi lain, Pemkot Bandung memastikan bahwa komponen biaya lainnya akan ditekan semaksimal mungkin guna membantu napas para pengusaha. Salah satunya adalah sektor logistik yang masih mendapatkan bantuan dari pemerintah.
Menurut Farhan, biaya pengangkutan saat ini masih disubsidi besar-besaran oleh pemerintah pusat. Dengan demikian, komponen biaya yang mengalami kenaikan murni hanya berasal dari harga kedelai impor itu sendiri.
Pihaknya berharap dengan menjaga efisiensi di sektor limbah dan memanfaatkan subsidi transportasi, para pengusaha tahu di Kota Bandung dapat bertahan melewati masa-masa sulit ini.
“Yang lainnya kita upayakan efisien. Biaya pengangkutan pemerintah masih mensubsidi banyak dari pemerintah pusat. Jadi yang naik cuma harga kedelainya karena memang impor,” tandasnya.
Editor : Rizal Fadillah
Artikel Terkait
