Edukasi ini menjadi relevan di tengah kesenjangan sebesar 14,05 poin persentase antara tingkat inklusi dan literasi keuangan, berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS).
Ini menunjukkan bahwa tingginya pemanfaatan layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti oleh kemampuan untuk memahami manfaat, risiko, dan cara penggunaannya secara tepat.
Ketimpangan tersebut menjadi semakin penting untuk diatasi di tengah maraknya kejahatan digital.
Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat lebih dari 572.000 laporan rekening penipuan melalui layanan CekRekening.id sepanjang 2017 hingga 2024, serta memblokir lebih dari 13.000 nomor telepon yang terindikasi penipuan hingga Mei 2026.
Kondisi ini mempertegas pentingnya membekali mahasiswa baru, yang mulai memasuki fase hidup lebih mandiri, dengan kemampuan mengelola keuangan sekaligus melindungi diri saat beraktivitas di ruang digital.
Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra mengatakan, masa awal perkuliahan merupakan momentum penting untuk membangun kebiasaan finansial dan digital yang sehat.
“Mahasiswa baru sedang memasuki fase yang menuntut kemandirian dalam mengelola keuangan dan memanfaatkan layanan digital," kata Karaniya.
Karaniya berharap melalui kolaborasi bersama Bank Indonesia, MoneyFestasi dan Unpad, inisiatif Fintech Academy by OVO ini, dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengenali risiko.
Mahasiswa dapat bertransaksi secara aman dan membangun kebiasaan finansial yang bertanggung jawab sejak awal perkuliahan hingga memasuki dunia kerja nantinya.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
