Kepala Kantor Perwakilan BI Jabar Junanto Herdiawan mengatakan, generasi muda memiliki peran penting dalam membangun ekosistem digital yang sehat, aman, dan produktif.
“Di era digital, apa yang kita lakukan di ruang digital, baik melalui media sosial maupun transaksi digital, perlu dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab," kata Junanto.
Saring sebelum sharing, ujar Junanto, jaga data pribadi, dan pastikan setiap transaksi dilakukan dengan aman.
"Kalau ragu, stop dulu, jangan panik, lakukan verifikasi melalui kanal resmi. Generasi muda harus menjadi agen literasi cerdas agar manfaat ekosistem digital dapat dirasakan secara optimal dan aman,” ujar Junanto.
Selama sesi talk show interaktif ini, para mahasiswa baru juga dibekali pemahaman tentang tiga aspek utama literasi keuangan dan keamanan digital.
Pembekalan tersebut mencakup kemampuan mengenali ciri dan red flags produk keuangan ilegal. Kewaspadaan terhadap modus social engineering yang mengincar data sensitif.
Seperti PIN dan kode OTP, serta strategi praktis untuk mengelola uang kiriman secara bijak agar terhindar dari perilaku konsumtif.
"Mahasiswa tidak perlu menunggu memiliki penghasilan besar untuk mulai mengatur keuangan. Biasakan menyusun prioritas, mengelola uang sesuai kebutuhan, dan menyisihkan dana sejak awal," kata kata Financial Planner Rista Zwestika.
Begitu pula saat memilih produk keuangan atau berinvestasi, ujar Rista, pastikan setiap keputusan didasarkan pada tujuan, manfaat, risiko, dan kemampuan. "Bukan sekadar mengikuti tren atau Fear of Missing Out (FOMO),” ujar Rista.
Program edukasi Fintech Academy by OVO terus memperluas jangkauannya di lingkungan perguruan tinggi sebagai upaya untuk membangun generasi muda yang lebih cakap secara finansial di era digital.
Sepanjang 2026, program ini telah hadir di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Sebelas Maret (UNS), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
