BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Yayasan Edukasi Siber Indonesia (YESI) menyambut antusias arahan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, terkait penataan program studi perguruan tinggi agar lebih relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja, khususnya di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Ketua Pengurus YESI, Julia Rezeki, S.IP., M.Sos., menilai langkah tersebut selaras dengan dinamika dunia pendidikan saat ini yang dihadapkan pada pesatnya kemajuan AI, robotika, otomatisasi, dan keamanan siber.
“YESI menyambut antusias arahan Menteri Brian Yuliarto. Pendidikan tinggi memang tidak cukup hanya memperbanyak program studi, tetapi harus memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan,” ujar Julia dalam pernyataannya di Bandung, Kamis (8/10/2026).
Sebelumnya, Menteri Brian mendorong perguruan tinggi untuk mengevaluasi penambahan program studi serta mempertimbangkan penggabungan prodi serumpun. Wakil Menteri Stella Christie turut menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu lulusan serta daya saing mereka dalam menghadapi perubahan dunia kerja akibat disrupsi teknologi.
Menurut Julia, penataan ini tidak bermakna menutup ruang bagi ilmu pengetahuan baru. Sebaliknya, institusi pendidikan tinggi perlu lebih selektif dalam menghadirkan program studi yang benar-benar esensial.
“Yang diperlukan Indonesia bukan sekadar lebih banyak program studi, melainkan program studi yang bermutu, relevan, dan mampu menghasilkan tenaga profesional yang siap menghadapi perubahan teknologi,” katanya.
Kesiapan Tiga Bidang Pendidikan Siber di PSI
Sebagai wujud nyata dari visi tersebut, YESI saat ini tengah mempersiapkan pendirian Politeknik Siber Indonesia (PSI) yang berlokasi di Jl. Babakan Sari No.68, Babakan Sari, Kec. Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat 40283. Kampus vokasi ini disiapkan untuk berfokus pada teknologi masa depan.
Dalam rancangan awal pendiriannya, PSI akan mengembangkan tiga program sarjana terapan utama, yaitu: Kecerdasan Buatan dan Robotik, Sistem Siber Fisik, dan Rekayasa Keamanan Siber.
Ketiga bidang tersebut dirancang secara integratif untuk memperkuat kompetensi di sektor sistem cerdas, otomatisasi industri digital, serta proteksi keamanan siber.
“Perkembangan AI tidak dapat dipisahkan dari robotika dan keamanan siber. Indonesia membutuhkan lulusan yang bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga menciptakan, mengembangkan, dan mengamankannya,” jelas Julia.
Ia menegaskan bahwa proses pendirian PSI masih berjalan sesuai tahap persiapan. Seluruh tata kelola dan rencana program studi nantinya akan merujuk secara ketat pada ketentuan perizinan serta sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi yang berlaku.
Berlandaskan Regulasi Pendidikan Tinggi
Inisiatif pengembangan vokasi berbasis teknologi ini juga berpijak pada Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, khususnya aturan mengenai penyelenggaraan pendidikan vokasi dan pendirian perguruan tinggi. Selain itu, YESI menempatkan aspek penjaminan mutu sebagai prioritas utama yang mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 beserta perubahannya melalui Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2026.
“Bagi YESI, perhatian pemerintah terhadap relevansi pendidikan tinggi merupakan momentum penting. Kami ingin ikut mempersiapkan generasi Indonesia yang menguasai kecerdasan buatan, robotika, dan keamanan siber secara profesional serta bertanggung jawab,” tegasnya.
Menutup keterangannya, Julia berharap kebijakan penataan prodi dapat memperkuat mutu akademik nasional sekaligus mewadahi inovasi keilmuan baru yang berlandaskan kebutuhan nyata bangsa.
“Masa depan Indonesia tidak cukup dibangun dengan kemampuan menggunakan kecerdasan buatan. Kita juga harus mampu menciptakan dan mengendalikan teknologi tersebut untuk kepentingan bangsa,” pungkas Julia.
Editor : Agung Bakti Sarasa
Artikel Terkait
