Sementara itu, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengatakan, menjaga budaya tetap hidup bukan hanya tentang mempertahankan tradisi. Tetapi juga memberi ruang agar masyarakat bisa mengenal, menikmati, dan menjadi bagian tradisi itu.
Menurut Renitasari, kesenian, kuliner, dan kerajinan tradisional menyimpan cerita serta nilai penting untuk terus diwariskan. Melalui Lestari Tradisi: Bandung 1990, Bakti Budaya Djarum Foundation ingin menghadirkan suasana pesta rakyat yang hangat.
Tempat masyarakat berkumpul, menikmati beragam kesenian, dan merayakan kekayaan budaya yang mereka miliki.
"Sejalan dengan semangat Tumbuh Bersama Indonesia, kami berharap kegiatan ini dapat mendekatkan masyarakat dengan akar budayanya. Sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap keberagaman budaya Indonesia,” kata Renitasari.
Renita menyatakan, oemilihan Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan tahun ini juga tidak terlepas dari peran kota inidalam perkembangan seni dan budaya Indonesia.
Bandung memiliki sejarah panjang sebagai ruang pertemuan dan perkembangan berbagai ekspresi seni. Di akhir 1980-an hingga 1990-an, Bandung melahirkan hentakan revolusioner melalui pencampuran seni tradisi klasik dengan budaya populer hingga melahirkan Pop Sunda.
"Itu ditandai dengan meledaknya Tari Jaipong karya Gugum Gumbira dan merajanya lagu-lagu pop berbahasa Sunda di kancah nasional," ujarnya.
Kepedulian Happy Salma terhadap keberlangsungan budaya juga hadir melalui karya terbaru bersama rumah produksi Puri Aksara, dengan dukungan Bakti Budaya Djarum Foundation, bertajuk Di Bawah Langit Kita (Bertemu Para Penjaga Budaya).
Serial dokumenter yang disutradarai dan dipandu Happy Salma itu, terdiri atas tiga episode berdurasi maksimal 15 menit. Serial tersebut mengajak penonton mengenal sosok-sosok yang dengan ketekunan dan kecintaan terus merawat warisan leluhur di tengah perubahan zaman.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
