Perkuat Ekosistem Seni Rupa
Ketua Umum Dewan Kesenian Cianjur (DKC) Benben Bella mengatakan, penyelenggaraan pameran merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem seni rupa, memperluas jaringan industri kreatif, dan menyediakan ruang representatif bagi karya para seniman.
Direktur Art Space by DKC Alexander Chris dan DKC sengaja mengundang Metty untuk menghadiri pembukaan pameran tersebut. Chris menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Metty terhadap perkembangan dan kemajuan seni budaya terutama seni rupa di Cianjur.
Pameran tersebut merupakan penyelenggaraan pameran seni rupa keempat dalam program Art Space by DKC. Sekaligus pameran tunggal perdana Widhi setelah lebih dari satu setengah dekade berkarya.
Judul Fragmensia merupakan akronim dari “Fragmen Manusia”. Melalui seri ini, Widhi memperlihatkan peralihan dari karya abstrak yang ekspresif menuju penggambaran figur manusia dengan simbolisme yang kuat.
Bagi Widhi, perubahan tersebut tidak sebatas persoalan teknik melukis. Tetapi juga menjadi proses belajar kembali memahami manusia dan dinamika batinnya. “Hal yang saya garis bawahi dalam pameran ini adalah bagaimana cara kita merespons dinamika psikologis dalam pikiran kita selaku manusia,” kata Widhi.
Sedangkan kurator Novan menjelaskan, pameran tersebut mengangkat lima suasana batin. Yakni, kesedihan, penyangkalan, kemarahan, ketenangan, dan penerimaan. Gagasan penerimaan diwujudkan melalui penggunaan warna biru pada ruang pamer untuk menghadirkan kesan lega.
Pembukaan pameran turut dihadiri sejumlah tokoh seni budaya, di antaranya Tatang Setiadi atau Abah Tatang, maestro seni tradisi Sunda asal Cianjur yang menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2024 kategori Maestro Seni Tradisi dari Kemendikbudristek.
Hadir pula Prof Dr Ir H Ika Djatnika, ilmuwan di bidang pertanian yang memiliki kecintaan terhadap kebudayaan Sunda, serta akademisi Universitas Maranatha Bandung Dr Ismet Zainal Effendi yang menyampaikan pidato pembuka.
Editor : Abdul Basir
Artikel Terkait
