Deretan Peraih Gelar Doktor Termuda di Indonesia, Terbaru Lulusan UIN SGD Bandung

Rizal Fadillah
.
Kamis, 22 September 2022 | 10:30 WIB
Ilustrasi peraih gelar doktor termuda di Indonesia. (Foto: net)

BANDUNG, INEWSBANDUNGRAYA - Meraih gelar doktor tentunya menjadi dambaan setiap orang.

Namun, kecenderungan seseorang untuk mengantongi gelar tersebut di usia yang tak lagi muda membuat banyak orang berpikir kembali.

Padahal, ada beberapa orang yang mampu meyelesaikan pendidikan S3 mereka sebelum menginjak usia 30, lho.

Memang, menamatkan pendidikan hingga mengantongi gelar doktor tentu membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang tinggi.

Namun nyatanya, dunia perguruan tinggi di Indonesia pun banyak menghasilkan doktor termuda dari berbagai bidang keilmuan.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1. Diva Kurnianingtyas

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menelorkan generasi muda yang berkompetensi. Kali ini, ada Diva Kurnianingtyas dari Departemen Teknik Sistem dan Industri yang menyandang predikat sebagai wisudawan doktor termuda di prosesi Wisuda ke-124 ITS, September 2021 lalu yang berhasil lulus di usia 24 tahun 9 bulan.

Dikutip dari laman ITS, Diva sebelumnya menempuh S1 Teknik Informatika di Universitas Brawijaya dengan lama studi 3,5 tahun. Setelah tiga bulan bekerja di bidang Data Engineering, ia mengambil beasiswa program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) di ITS jurusan Teknik Sistem dan Industri. Kuliah S2 di ITS ditempuhnya selama setahun dan studi S3 selama tiga tahun.

Sebetulnya, Diva tidak berekspektasi kuliah lanjut sampai S3 di usia muda. Namun karena ingin membahagiakan dan membanggakan ibundanya menjadikan motivasi tinggi gadis kelahiran Malang, 13 Desember 1996 untuk lulus sampai S3.

Di akhir masa studinya, dalam disertasinya Diva mengangkat topik mengenai perancangan, pengembangan, dan perencanaan sistem asuransi kesehatan nasional. Tujuannya adalah untuk memperoleh strategi alternatif mekanisme rujukan kesehatan agar anggaran keuangan stabil, premi terjangkau, dan kualitas program meningkat.

2. Ezi Masdia Putri

Ezi Masdia Putri dari Fakultas Peternakan (Faterna) Universitas Andalas (Unand) menjadi wisudawan doktor termuda pada wisuda IV yang dilangsungkan pada Oktober 2021 lalu di usia 26 tahun.

Ia berhasil menyelesaikan studi S3 di Faterna Universitas Andalas selama 3 tahun 1 bulan predikat Dengan Pujian. Tahun 2017, ia mulai kuliah di jurusan Ilmu Nutrisi Ruminansia Fakultas Peternakan Universitas Andalas melalui program beasiswa PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul).

Dikutip dari laman Unand, Ezi menempuh studi S2 selama 1 tahun, dan studi S3 selama 3 tahun 1 bulan. Adanya rasa ingin tahu yang besar mengenai dunia penelitian khususnya bidang peternakan memberikan semangat untuk mengikuti program beasiswa PMDSU ini.

Berkat bimbingan dan arahan para profesor yang luar biasa, ia telah menyelesaikan penelitian dan tulisan Disertasi mengenai “Optimalisasi Rasio Degradable Dan Undegradable Protein Ransum Berbasis Bahan Pakan Konvensional untuk Meningkatkan Produktivitas Sapi Potong”.

Bersama promotor, dua artikelnya telah diterbitkan di Jurnal Internasional terindeks Scopus Q2 dan dipresentasikan di seminar internasional. Selain itu, dengan bekerja sama peneliti lain di lingkungan Faterna tujuh artikel lainnya juga telah diterbitkan di Jurnal Internasional terindeks Scopus.

3. Nyayu Aisyah

Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) kembali menganugerahkan gelar doktor kepada salah satu mahasiswa terbaik FTUI, Nyayu Aisyah pada 2019 lalu. Pada usia 25 tahun, Nyayu dinyatakan lulus pada program Doktor di Departemen Teknik Mesin FTUI setelah menempuh sidang disertasinya yang berjudul “Analisis Dan Optimalisasi Sistem Pompa Panas Dan Pendingin Yang Ramah Lingkungan”.

Dikutip dari laman UI, Nyayu lulus sebagai lulusan program Doktor termuda FT UI dan tercatat sebagai Doktor ke-62 Teknik Mesin UI sekaligus doktor ke-322 FT UI.Ia berhasil pula meraih predikat cumlaude dengan IPK 3.90 dari skala 4.00.

Tidak hanya berhasil meraih gelar doktor dengan predikat terbaik, perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan ini juga telah menulis dan mempublikasikan tujuh artikel pada beberapa jurnal internasional yang terindex scopus dan mengikuti 5 konferensi internasional di beberapa Negara.

Salah satu artikelnya, “Solar Absorption Chiller System Performance Prediction based on Principal Component Analysis” telah dipublikasikan Jurnal Case Studies on Thermal Engineering yang terindeks Q1 Scopus.

4. Rendra Panca Anugraha

Ada yang istimewa dalam gelaran Wisuda ke-119 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 16 – 17 Maret 2019. Yakni, adanya salah satu wisudawan yang merupakan doktor termuda di usia 24 tahun 4 bulan bernama Rendra Panca Anugraha dari Departemen Teknik Kimia ITS.

Dikutip dari laman ITS, cerita berawal dari usulan dosen pembimbingnya di masa studi sarjana (S1), untuk mengikuti sebuah program beasiswa bernama Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemenristekdikti pada 2015 yang menantang para sarjana unggulan untuk menyambung studi mereka hingga ke tingkat doktoral dalam kurun empat tahun.

Siapa sangka, pemuda kelahiran Bondowoso, 25 November 1994 ini malah merampungkan tantangan tersebut hanya dalam kurun waktu 3,5 tahun saja. Selama kurun waktu itu pula, mahasiswa bimbingan Prof Dr Ir Gede Wibawa dan Prof Dr Ir Ali Altway ini berhasil melakukan publikasi penelitian di tiga jurnal ilmiah internasional bereputasi, serta dua seminar internasional.

Dalam disertasinya, Rendra terfokus pada pemanfaatan Dimethyl Carbonate (DMC) dan Diethyl Carbonate (DEC) sebagai zat aditif pada bahan bakar bensin. Alasannya, Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil (terutama bensin atau gasoline), padahal sumber daya tersebut sangat terbatas. Oleh karenanya, ia menawarkan gagasan untuk mengurangi ketergantungan ini dengan menambahkan DMC dan DEC yang dapat diproduksi dari sumber biomassa.

5. Asep Abdul Aziz dan Nurti Budiyanti

Di tahun 2022 ini, UIN SGD Bandung telah melahirkan pasangan doktor muda di bidang Pendidikan Islam. Mereka adalah pasangan suami istri, Asep Abdul Aziz dan Nurti Budiyanti.

Asep Abdul Aziz yang berusia 29 tahun itu merupakan mahasiswa Ilmu Pendidikan Islam angkatan 2019 menempuh pendidikan Stata-3 dengan istrinya yang bernama Nurti Budiyanti yang usianya genap 28 tahun.

Berdasarkan hasil uji Promovendus pada hari Kamis (21/7/2022), Asep Abdul Aziz meraih hasil nilai komulatif 3,87 dengan pridikat Coumlaude. Begitu pun dengan sang istri, yang memperoleh hasil yang sama yakni nilai komulatif 3,87 dengan pridikat Coumlaude.

Pada sidang senat terbuka wisuda ke-87 tahun akademik 2021/2022 yang digelar pada Sabtu (17/9/2022) kemarin, pasutri ini menjadi perwakilan dari program doktor Ilmu Pendidikan Islam UIN SGD Bandung dengan raihan IPK tertinggi 3,87.

Secara khusus, Nurti Budiyanti mendapat penghargaan dari rektor UIN SGD Bandung, yakni Prof. Dr. Mahmud, M.Si sebagai doktor termuda dengan raihan IPK 3,87.

Editor : Rizal Fadillah
Bagikan Artikel Ini