Unisba Kukuhkan Guru Besar Baru, Perkuat Kualitas Akademik dan Daya Saing

"Target ke depan hanya itu, seperti yang tadi dikatakan oleh Pak Kalem, 90-an atau 100 dosen yang rektor kepala itu harus jadi guru besar. Itu nanti menjadi tugas rektor yang baru," ungkapnya.
Edi juga mengatakan, dalam proses kenaikan jabatan akademik, kendala utama bukan hanya pada aspek administratif atau persyaratan akademik, tetapi juga kesadaran individu dosen itu sendiri.
Meski Unisba telah memberikan berbagai dukungan berupa insentif penelitian, fasilitasi publikasi jurnal, serta apresiasi berupa laptop untuk Guru Besar baru, masih ada dosen yang kurang termotivasi karena menganggap kenaikan gaji tidak terlalu signifikan.
Edi menekankan bahwa kenaikan jabatan ini bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga demi kemajuan institusi. Dengan bertambahnya jumlah Guru Besar, kualitas akademik Unisba juga akan semakin meningkat, sehingga memberikan dampak positif bagi mahasiswa serta masyarakat luas.
"Kalau hanya melihat kepentingan pribadi, ada dosen yang enggan naik jabatan karena merasa kenaikan gaji hanya 200 ribu rupiah. Mereka berpikir, "Saya sudah cukup, tidak perlu naik jabatan." Nah, ini berarti mereka hanya melihat keuntungan pribadi, padahal institusi membutuhkan peningkatan jumlah guru besar," paparnya.
Editor : Zhafran Pramoedya