get app
inews
Aa Text
Read Next : Modantara Angkat Bicara Soal Wacana Regulasi Ojek Online: Jangan Sampai Niat Baik Jadi Krisis!

Kisah Pilu Tiga Driver Ojol Korban Unjuk Rasa Dorong Solidaritas Nyata

Sabtu, 30 Agustus 2025 | 20:20 WIB
header img
Perwakilan Grab menjenguk Aji Pratama, mitra driver yang terkena peluru karet aparat saat unjuk rasa pada Jumat (29/8/2025). (FOTO: ISTIMEWA)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Saat ini, ribuan driver ojek online (ojol) menjadi bagian dari denyut kota. Mereka mengantarkan makanan, menjemput penumpang, dan memastikan paket tiba di tujuan. 

Mereka adalah wajah sehari-hari dari ekonomi digital yang hadir di layar aplikasi lalu melintas di jalanan dengan jaket hijau yang mudah dikenali. 

Namun, di balik rutinitas itu, risiko besar senantiasa mengintai. Peristiwa yang terjadi pada Kamis-Jumat 28–29 Agustus 2025 menjadi pengingat pahit tentang kerentanan dan risiko yang dihadapi para pengemudi. 

Tiga mitra Grab menjadi korban saat kerusuhan terjadi di Jakarta. Dua orang luka serius, satu meninggal dunia. Mereka adalah Affan Kurniawan, Aji Pratama, dan Umar Amarudin. Peristiwa ini mendorong solidaritas dan kepedulian nyata kepada mereka.

Terkena Peluru Karet

Pada Jumat 29 Agustus 2025 sore, Aji Pratama baru saja menyelesaikan pengantaran pesanan GrabFood. Dia berniat menemui rekannya yang sedang berada di sekitar lokasi demonstrasi. Namun, nasib berkata lain. 

Sebuah peluru karet mengenai wajah dan menyebabkan luka serius di bagian hidung Aji. Dia segera dilarikan ke RSUD Tarakan untuk mendapat perawatan medis.

Beberapa jam setelah kejadian, perwakilan Grab datang untuk memastikan Aji mendapatkan penanganan terbaik. Operasi hidung segera dijadwalkan, seluruh biaya perawatan ditanggung, dan administrasi rumah sakit dibantu langsung agar keluarga tidak terbebani. 

Sejak hari pertama, tim Grab rutin hadir setiap hari, mendampingi keluarga sekaligus memantau kondisi medis. Langkah itu menjadi bukti bahwa perhatian yang diberikan bukan hanya berupa santunan, tetapi juga kehadiran nyata di saat paling dibutuhkan.

Terinjak Massa

Sehari sebelumnya, Kamis 28 Agustus 2025 malam, insiden menimpa Moh Umar Amarudin warga Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Malam itu, Umar berada di kawasan Jakarta Barat, tidak jauh dari kerumunan massa yang sedang melakukan penyampaian aspirasi. 

Semula, Umar sedang menunggu rekannya, namun situasi lapangan tiba-tiba menjadi ricuh. Dorongan massa membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh. 

Dalam hitungan detik, tubuhnya terinjak kerumunan massa yang panik. Akibatnya, Umar mengalami cedera di bagian rusuk sehingga dilarikan ke RS Pelni. Di sana, dokter menyarankan tindakan operasi untuk mengatasi patah tulang di rusuk Umar.

Tim Grab hadir di RS Pelni menjenguk Umar untuk memastikan kondisinya. Kehadiran itu tidak sekadar menanyakan kabar, tetapi memberi dukungan nyata. Dari mengurus administrasi, memastikan perawatan medis berjalan lancar, hingga menyiapkan kebutuhan mendesak.

Telepon genggam Umar yang hilang saat insiden diganti dengan perangkat baru agar dia tetap bisa berkomunikasi dan bekerja kembali setelah pulih. Selain itu, bantuan finansial juga diberikan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari keluarganya yang ikut berjaga di rumah sakit.

Kehadiran tersebut memberi rasa tenang. Di tengah kecemasan keluarga yang khawatir dengan kondisi Umar, perhatian dan bantuan konkret membuat mereka tidak merasa sendiri menghadapi situasi sulit ini.

Dilindas Mobil Rantis Brimob

Kisah paling memilukan datang dari Almarhum Affan Kurniawan. Pada Kamis 28 Agustus 2025 malam itu, dia menjadi korban kendaraan taktis (rantis) Brimob. Tubuhnya dilindas kendaraan tersebut.

Affan sempat dilarikan ke RSCM, namun nyawanya tidak tertolong. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan sesama mitra pengemudi ojol. 

Almarhum Affan tercatat sebagai pengemudi yang terdaftar di dua platform besar, Grab dan Gojek, sehingga kabar duka ini dirasakan luas oleh komunitas ojol.

Sebagai bentuk penghormatan, Grab hadir di rumah duka di Menteng. Manajemen perusahaan datang menyampaikan belasungkawa, memberikan santunan bagi keluarga, serta mengirimkan karangan bunga. 

Grab juga hadir dalam prosesi pemakaman, bukan sekadar sebagai formalitas, tetapi sebagai tanda bahwa perjuangan almarhum di jalan raya mendapat penghargaan yang layak. 

Pendampingan hukum turut disiapkan untuk memastikan keluarga tidak menghadapi kesulitan tambahan. Kehadiran perwakilan Gojek di rumah duka dan pemakaman turut menegaskan solidaritas lintas platform bagi almarhum dan keluarganya.

Tindakan cepat ini memperlihatkan bahwa hubungan perusahaan dengan mitra tidak hanya sebatas platform kerja. Ada ikatan yang lebih dalam, sebuah komitmen untuk saling menjaga ketika musibah datang. 

“Grab Indonesia hadir bukan hanya sebagai perusahaan, tetapi sebagai bagian dari perjuangan mitra pengemudi kami. Kami berdiri bersama mereka untuk memastikan keadilan ditegakkan dan hak-hak mereka terlindungi. Karena itu, kami menyiapkan pendampingan, termasuk pendampingan hukum apabila dibutuhkan,” kata Chief of Public Affairs Grab Indonesia Tirza Munusamy.

Tirza menyatakan, tidak ada bentuk bantuan yang benar-benar bisa menutupi kehilangan atau luka akibat musibah. Namun, Grab ingin memastikan keluarga tidak menghadapi beban itu sendirian.

“Kami menyadari, tidak ada angka atau santunan apa pun yang dapat menggantikan rasa sakit dan kehilangan. Kami hadir memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk pendampingan hukum, bantuan  inansial, maupun perhatian sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Tirza, dukungan Grab hadir dalam tiga lapisan. Pertama, memastikan aspek medis tertangani. Operasi Aji dan Umar ditanggung penuh, termasuk jika muncul kebutuhan tambahan. 

Kedua, bantuan material dan finansial, santunan diberikan kepada keluarga Affan, perangkat kerja baru bagi Umar, hingga dukungan harian yang membuat keluarga bisa bertahan di tengah masa sulit. 

Ketiga, pendampingan hukum dan moral: mulai dari kunjungan rutin ke rumah sakit, menghadiri pemakaman, hingga memastikan keluarga mendapat
perlindungan hukum jika diperlukan.

Bantuan-bantuan itu mungkin tidak bisa menghapus luka atau menggantikan kehilangan, tetapi menjadi sandaran penting bagi keluarga yang terdampak. 

Dalam situasi penuh ketidakpastian, perhatian seperti ini membuat mereka merasa tidak sendirian. Peristiwa 28–29 Agustus 2025 juga membuka mata bahwa profesi pengemudi ojol sarat risiko.

Dukungan dan perlindungan bagi mereka bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan mendesak. Solidaritas yang muncul beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa hubungan antara mitra dengan perusahaan tidak hanya sebatas transaksi digital. 

Grab, melalui rangkaian tindakannya, berusaha menghadirkan itu semua secara nyata. Memang, tidak ada santunan sebanding dengan nyawa, tidak ada bantuan yang bisa sepenuhnya menghapus rasa kehilangan. 

Namun, solidaritas nyata yang telah dilakukan menjadi bentuk penghormatan, sekaligus ikhtiar untuk menunaikan amanah melindungi mitra.

Editor : Agus Warsudi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut