get app
inews
Aa Text
Read Next : Kebutuhan AI Melesat, Ini Arah Keterampilan yang Dipelajari Orang Indonesia di 2025

Upaya Skrining dan Pengendalian Rokok Jadi Kunci Tekan Kematian Akibat Kanker Paru di Indonesia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:52 WIB
header img
POTI 2026 . (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Kanker paru tetap menjadi salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi di Indonesia. Tingginya angka kematian ini sebagian besar dipicu oleh terlambatnya diagnosis, karena banyak pasien baru terdeteksi pada stadium lanjut. Akibatnya, pilihan terapi terbatas dan peluang kesintasan pasien menurun.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa skrining kanker paru, terutama pada kelompok yang berisiko tinggi, dapat mendeteksi penyakit lebih dini. Pada tahap awal, pengobatan lebih efektif dan peluang hidup pasien meningkat. Sayangnya, hingga kini program skrining kanker paru belum terintegrasi secara menyeluruh dalam sistem kesehatan nasional.

Merokok menjadi faktor risiko utama kanker paru. Sebagian besar kasus terkait langsung dengan paparan rokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif. Oleh karena itu, pengendalian kanker paru perlu seiring dengan penguatan program berhenti merokok dan kebijakan pengendalian tembakau yang berkelanjutan dan tegas.

Dalam mendukung langkah tersebut, Perkumpulan Onkologi Toraks Indonesia (POTI) menggelar POTI 2026 2nd Lung Cancer Forum bertajuk “The Art & Science of Thoracic Oncology: Practical Implementation for Daily Practice”, yang berlangsung pada 16–18 Januari 2026 di Hotel Aryaduta Bandung.

Forum ini menjadi ruang strategis bagi tenaga kesehatan, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk membahas inovasi terbaru dalam skrining, diagnosis, dan tatalaksana kanker paru. Selain itu, forum juga menekankan pentingnya advokasi pencegahan melalui pengendalian rokok.

Ketua POTI, dr. Andika Chandra Putra, Ph.D, Sp.P(K)-Onk, MARS, menekankan bahwa peran pemerintah sangat penting untuk menurunkan angka kematian kanker paru.

“Mortalitas kanker paru di Indonesia masih tinggi karena sebagian besar pasien datang dalam kondisi stadium lanjut. Diperlukan kebijakan nasional yang kuat untuk skrining kanker paru pada kelompok berisiko tinggi serta program berhenti merokok yang terintegrasi dan berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia forum, dr. Yun Amril, Sp.P(K) Onk.T., MARS, menyoroti pentingnya penerapan ilmu klinis ke praktik sehari-hari.

“Forum ini diharapkan dapat menjembatani ilmu dan praktik klinis, sehingga deteksi dini dan tatalaksana kanker paru dapat diterapkan secara nyata dalam pelayanan kesehatan sehari-hari,” jelasnya.

Melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat, diharapkan upaya skrining dini serta pengendalian rokok bisa diperkuat. Tujuannya, menekan angka kematian akibat kanker paru di Indonesia secara signifikan.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut