Cerita Pedagang Es Kue Jadi Korban Fitnah: Saya Ditonjok, Ditendang, Baru Dikasih Duit
Perlahan, Sudrajat menceritakan awal kejadian yang berujung fitnah itu. Saat itu, seorang pembeli membeli lima es. Tak lama, seorang anak berteriak, "Pak, ini es racun." Ia dipanggil. Pria paruh baya berbadan kurus ini yakin pembelian itu bukan kebetulan, melainkan pancingan.
Di tengah keramaian, Sudrajat dikelilingi orang berseragam. Ia hanya membawa boks es.
"Lama-lama saya dikepung, ditonjok," katanya.
Ia menyebut yang memukul bukan hanya polisi, tetapi juga seorang anggota TNI. Ia ditarik, dikerumuni, lalu dibawa dengan ambulans ke Polsek Kemayoran. Namun, menurut Sudrajat, kekerasan itu terjadi bukan di kantor polisi, melainkan di pos dekat lokasi.
Di situ, ia dipaksa mengakui bahwa es yang dijualnya berbahan spons. Ia bahkan disuruh memakan es itu.
"Suruh makan. Saya bilang bukan spons, itu es beneran," ujarnya lirih.
Sudrajat mengaku dipukul, ditendang, dan disabet selang di dada hingga tiga kali. Ia sempat 'dikurung' sekitar satu jam. Kalimat yang paling ia ingat adalah peringatan agar tidak lagi berjualan di sana:
"Jangan sekali-sekali lagi dagang sini. Kalau dagang sini, saya tarik lagi," katanya menirukan.
Menjelang dini hari, Sudrajat dilepas. Ia pulang sendiri naik kereta, tiba di rumah sekitar pukul empat pagi. Tidak ada pemeriksaan medis terhadap cedera yang diterimanya. Ia menunjukkan bagian dada dan kakinya yang masih terasa sakit, serta wajah yang sempat lebam. Setelah kondisinya memburuk, ia diberi uang Rp300 ribu oleh atasan polisi di lokasi.
Editor : Agung Bakti Sarasa