Kolaborasi Pushidrosal Jadi Penentu Keberhasilan Proyek Giant Sea Wall
BANDUNG,iNews BandungRaya.id - Proyek perlindungan pesisir Giant Sea Wall tidak bisa diperlakukan semata sebagai proyek konstruksi fisik.
Keterlibatan TNI Angkatan Laut melalui Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) jadi penentu keberhasilan proyek tersebut.
Guru Besar Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Achmad Tjachja Nugraha mengatakan, megaproyek perlindungan pesisir ini harus berdiri di atas fondasi data ilmiah yang akurat, khususnya terkait karakteristik dasar laut dan dinamika oseanografi wilayah pesisir.
“Dalam perspektif sains dan teknologi, Giant Sea Wall hanya akan efektif jika ditopang data hidro-oseanografi yang presisi. Tanpa pemetaan yang valid, risiko kegagalan struktural dan kerusakan ekologis menjadi sangat besar,” ujar Prof. Achmad, Kamis (5/2/2006).
Ia menilai keterlibatan Pushidrosal mencerminkan integrasi ideal antara kapabilitas pertahanan negara dan kebutuhan pembangunan sipil.
Data yang dihasilkan tidak hanya memperkuat aspek keamanan laut, tetapi juga menjadi dasar penting dalam perumusan kebijakan publik berbasis bukti ilmiah.
Prof. Achmad menambahkan, peran TNI AL dalam proyek tersebut menunjukkan transformasi institusi militer modern yang responsif terhadap tantangan strategis.
Mulai dari perubahan iklim, kenaikan muka air laut, hingga meningkatnya tekanan aktivitas manusia di kawasan pesisir.
“Ini menunjukkan bagaimana teknologi pertahanan dapat berfungsi sebagai instrumen pembangunan. Negara tidak lagi bekerja secara sektoral, melainkan membangun kolaborasi untuk menjawab tantangan kemaritiman,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Achmad mengapresiasi peluncuran Indeks Hidro-Oseanografi Nasional (Ihonas) 2026 yang dinilainya sebagai instrumen strategis dalam menjembatani kepentingan akademisi, pemerintah, dan dunia usaha untuk pengelolaan ruang laut yang berkelanjutan.
“Ihonas berpotensi menjadi rujukan nasional dalam memperkuat tata kelola laut. Pemanfaatan yang optimal akan menekan konflik pemanfaatan ruang laut sekaligus meningkatkan efisiensi pembangunan,” ujarnya.
Sebagai Guru Besar Sains dan Teknologi, Prof. Achmad menegaskan bahwa pencapaian visi Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan publik ke dalam satu ekosistem maritim yang solid dan berkelanjutan. (*)
Editor : Rizki Maulana