Anggaran Daerah Dipangkas, Ini Alasan HIPMI Jabar Tetap Pede Ekonomi 2026 Tak Bakal Ambruk
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Di tengah bayang-bayang pemangkasan anggaran daerah dan fluktuasi ekonomi global, optimisme justru terpancar dari kalangan pengusaha muda di Jawa Barat. BPD HIPMI Jawa Barat meyakini bahwa daya beli domestik dan pergerakan pengusaha lokal akan menjadi "penyelamat" stabilitas ekonomi Tatar Sunda sepanjang tahun 2026.
Ketua Umum BPD HIPMI Jawa Barat, Radityo Egi Pratama, mengakui bahwa kebijakan penyesuaian fiskal pemerintah daerah memang memberikan tekanan pada sektor-sektor yang selama ini bergantung pada proyek pemerintah. Namun, ia melihat ada geliat lain yang mampu menyeimbangkan kondisi tersebut.
“Kalau kita lihat, memang ada konsekuensi dari pemotongan transfer ke daerah. Dampaknya pasti terasa. Tapi di sisi lain, ada penggerak ekonomi dari bawah yang justru menguat,” tegas Egi saat ditemui di Gedung DPRD Jawa Barat, Sabtu (7/2/2026).
Egi menyoroti beberapa program strategis yang diyakini mampu menjaga sirkulasi uang di tingkat akar rumput, seperti:
Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Menciptakan permintaan pasar baru bagi komoditas lokal.
Koperasi Merah Putih: Pembentukan koperasi di level desa/kelurahan yang memperkuat akses permodalan masyarakat.
Menurutnya, kekuatan sejati ekonomi Jawa Barat terletak pada ekosistem pengusaha yang terus bertumbuh, bukan sekadar angka di atas kertas.
“Fondasi ekonomi kita itu pengusaha-pengusaha domestik. Bukan hanya UMKM, tapi juga pengusaha pemula dan yang sedang berkembang. Aktivitas merekalah yang menjaga sirkulasi ekonomi tetap hidup,” tambahnya.
Meskipun data BPS sebelumnya menunjukkan angka pertumbuhan 5,32 persen, HIPMI Jabar memilih untuk bersikap lebih hati-hati dalam memproyeksikan tahun 2026. Dinamika kebijakan fiskal terbaru memaksa semua pihak untuk melakukan kalkulasi ulang.
Egi memprediksi pertumbuhan akan berada di angka moderat namun tetap positif.
“Kalau bisa tumbuh di kisaran 2 persen itu sudah realistis dalam kondisi sekarang. Kalau sampai 2–3 persen tentu sangat baik, tapi perlu dihitung secara hati-hati,” jelasnya.
Menariknya, ia tidak terlalu mengkhawatirkan tensi geopolitik dunia. Ia menilai Jawa Barat memiliki "benteng" berupa perdagangan antar-daerah yang solid. Selama produk lokal menjadi raja di pasar sendiri, guncangan global tidak akan menggoyahkan struktur ekonomi daerah secara ekstrem.
Sebagai langkah konkret memperkuat jejaring, HIPMI Jabar resmi melantik sejumlah Badan Semi-Otonom (Basnom). Langkah ini merupakan strategi untuk mewadahi spesialisasi usaha yang kian beragam, mulai dari sektor Syariah, Kuliner, hingga Pasar Modal (HIPMI Stock).
Inovasi organisasi ini merupakan respons terhadap kebutuhan pengusaha muda yang kian spesifik. Egi menjelaskan bahwa penambahan bidang di tahun 2026 ini mengikuti perkembangan organisasi di level pusat.
“Basnom ini menjadi wadah bagi teman-teman pengusaha yang punya minat, hobi, dan fokus usaha tertentu yang sebelumnya belum terakomodasi optimal di struktur kepengurusan,” pungkas Egi.
Editor : Agung Bakti Sarasa