Dulu Bertaruh Nyawa Seberangi Sungai, Siswa di Pacet Kini Punya Jembatan Garuda yang Kokoh
BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Bertahun-tahun, warga Kampung Rumbia, Desa Sukarame, dan Kampung Cibutak, Desa Cikitu, Kecamatan Pacet, hidup berdampingan dengan rasa waswas setiap kali harus menyeberangi sungai.
Bagi anak-anak sekolah, petani, hingga warga yang hendak ke pasar, sungai bukan sekadar aliran air, melainkan rintangan harian yang harus ditaklukkan.
Saat kemarau, sebagian nekat menyeberang. Saat hujan turun dan arus membesar, pilihan mereka hanya dua memutar jauh atau menunda aktivitas.
Sebelum Jembatan Gantung Perintis Garuda berdiri, penghubung dua kampung itu hanyalah jembatan bambu sederhana licin, rapuh, dan menegangkan.
Kondisi jembatan juga sangat dangkal dan nyaris menyentuh aliran Sungai Citarum yang berada di bawahnya.
Apabila debit air meninggi, warga pun tak ingin melintas di jembatan tersebut karena sangat berisiko.
“Sebetulnya yang dulu juga bisa dilewatin, memang dibangun pakai bambu, cuma ya itu khawatir kalau air lagi besar habis hujan, terus kan licin bambu,” ujar Suryani (46), petani Kampung Rumbia, Rabu (6/5/2026).
Perempuan yang sehari-hari menggantungkan hidup dari sawah dan kebun itu mengaku kerap menunda pekerjaan ketika cuaca buruk datang.
“Kalau posisi hujan, saya lebih baik menunda kalau mau ke sawah atau ke kebun,” katanya.
Tak hanya petani, anak-anak sekolah pun pernah merasakan kerasnya akses tersebut. Sebagian bahkan memilih menerjang sungai demi sampai ke sekolah.
“Betul, kalau dulu sebagian warga memang suka ada yang nyebrang sungai, anak sekolah juga ada. Saya juga pernah,” ucap Suryani.
Kini, pemandangan itu perlahan tinggal cerita.
Jembatan gantung sepanjang 50 meter dengan lebar 1,2 meter yang dibangun selama 3,5 bulan melalui metode padat karya resmi diresmikan Bupati Bandung Dadang Supriatna bersama Dandim 0624/Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah pada Rabu (6/5/2026).
Berdiri kokoh di atas sungai, Jembatan Perintis Garuda dibangun dengan kokoh menggunakan penopang besi dan terlihat lebih tinggi.
Jembatan ini juga menjadi simbol perubahan besar bagi dua desa yang selama ini terpisah oleh keterbatasan infrastruktur.
“Saya sangat bersyukur ada jembatan ini, kondisinya juga bagus, kokoh. Bedan pisan dengan yang sebelumnya,” kata Suryani.
Harapan serupa datang dari Herman Yahya (41), warga Kampung Cibutak. Ia masih mengingat bagaimana derasnya arus sungai kerap memaksa warga mengurungkan perjalanan.
“Dulu mah banyak nyebrang sungai, tapi air pas lagi enggak gede. Kalau gede gak berani,” katanya.
Menurut Herman, keberadaan jembatan baru memberi rasa aman yang sebelumnya tak pernah benar-benar dimiliki warga.
“Tapi kalau lewat sekarang mah aman, jembatannya udah besar, bagus, kuat. Tinggal kita warga jaga dan rawat,” ujarnya.
Bagi masyarakat setempat, peresmian jembatan bukan hanya soal infrastruktur, tetapi tentang harga diri dan masa depan.
Tokoh masyarakat Kampung Rumbia Tatang menyebut pembangunan itu sebagai jawaban atas penantian panjang warga yang selama ini mengandalkan swadaya.
“Untuk ke depannya membutuhkan uluran tangan dari Bapak Bupati dan dinas terkait, supaya perjalanan anak sekolah, petani, sampai warga ke pasar lebih lancar,” tuturnya.
Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan, jembatan tersebut akan berdampak langsung pada percepatan ekonomi warga Pacet, khususnya Desa Sukarame dan Desa Cikitu.
“Dengan adanya jembatan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan percepatan ekonomi masyarakat,” katanya.
Dadang juga langsung menggelontorkan bantuan pribadi masing-masing Rp10 juta untuk dua desa guna memperbaiki akses jalan setapak menuju jembatan yang masih becek saat musim hujan.
“Maka ini kita bangkitkan lagi semangat gotong royong,” ujarnya.
Tak berhenti di jembatan, Dadang juga menjanjikan bantuan rumah tidak layak huni masing-masing tiga unit di dua desa tersebut.
Sementara itu, Dandim 0624 Letkol Kav Samto menegaskan pembangunan jembatan ini merupakan implementasi langsung arahan Presiden Prabowo Subianto agar tidak ada lagi anak sekolah yang harus basah-basahan menyeberangi sungai.
“Bapak Presiden tidak menginginkan lagi ada masyarakat yang berangkat sekolah melalui sungai,” tegasnya.
Menurut Samto, jembatan ini bukan milik pemerintah atau TNI semata, melainkan milik masyarakat.
“Jembatan ini bukan punya pemerintah, bukan punya TNI, tetapi milik masyarakat yang harus dirawat,” katanya.
Di Pacet, Jembatan Gantung Perintis Garuda kini lebih dari sekadar besi, kabel, dan papan pijakan.
Ia adalah jalan baru menuju sekolah tanpa basah-basahan, jalur panen yang lebih cepat, akses pasar yang lebih mudah, sekaligus bukti bahwa pembangunan bisa hadir hingga ke kampung yang lama menunggu.
Dari bambu licin yang penuh cemas, warga kini menapaki harapan baru lebih aman, lebih cepat, dan lebih bermartabat.
Editor : Agung Bakti Sarasa