get app
inews
Aa Text
Read Next : Menteri LH dan Kreator Konten Jabar Bahas Kolaborasi Penanganan Isu Lingkungan

Gugat 'Panggung Sandiwara' Dedi Mulyadi, Mahasiswa Jabar: Berhenti Poles Citra!

Jum'at, 15 Mei 2026 | 12:43 WIB
header img
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. (FOTO: Humas Polda Jabar)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Riuh rendah narasi kemajuan Jawa Barat yang kerap menghiasi lini masa media sosial kini berbenturan dengan realitas pahit di lapangan. PKC PMII Jawa Barat secara terbuka membongkar disparitas tajam antara citra "Jabar Istimewa" dengan kondisi rakyat yang kian terhimpit. Melalui unggahan di Instagram @pkcpmiijawabarat pada Kamis (14/5/2026), mereka melayangkan mosi tidak percaya dengan sebuah peringatan keras: "Jabar Sedang Tidak Baik-Baik Saja."

Kritik ini secara spesifik diarahkan pada gaya kepemimpinan Gubernur Dedi Mulyadi yang dinilai lebih piawai mengolah konten daripada menyelesaikan akar persoalan provinsi berpenduduk hampir 50 juta jiwa tersebut.

Polemik Politik Pencitraan: Rakyat Makan Konten?

Mahasiswa menyoroti fenomena "hiper-pencitraan" yang kian masif. Salah satu materi aksi yang viral memperlihatkan kontrasnya gaya hidup elite dengan nestapa warga; Gubernur yang dicitrakan gagah menunggang kuda putih, sementara di sisi lain, gunungan sampah dan antrean sembako menjadi pemandangan sehari-hari yang tak terurus.

Tagar "PESTA DEDI, JABAR WADUL!" menjadi motor penggerak protes ini. PKC PMII Jabar menilai kebijakan pemerintah provinsi terjebak dalam "Panggung Sandiwara Satu Orang," sebuah sindiran bagi pola komunikasi publik yang hanya mengedepankan sosok gubernur tanpa menyentuh perbaikan sistemik yang nyata.

Pendidikan Roboh dan Kesehatan yang Tebang Pilih

Kritik paling pedas menyasar sektor pelayanan dasar. Di tengah jargon digitalisasi, potret buram SDN Mekarsari 03 di Cidaun, Cianjur—yang kondisinya hancur dan nyaris roboh—menjadi bukti otentik bahwa pembangunan belum merata.

Ironi serupa terjadi di sektor kesehatan. Slogan pengobatan gratis dianggap mahasiswa hanya sekadar kosmetik politik karena fakta di lapangan menunjukkan banyaknya pasien miskin yang ditolak.

Editor : Agung Bakti Sarasa

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut