Gugat 'Panggung Sandiwara' Dedi Mulyadi, Mahasiswa Jabar: Berhenti Poles Citra!
"Pelayanan rumah sakit masih tebang pilih. Rakyat kecil cuma dapat slogan gratis, tapi praktiknya sulit akses," tulis pernyataan resmi PMII.
Selain itu, Gubernur Dedi Mulyadi juga didesak bertanggung jawab atas sengkarut PPDB yang setiap tahun mencekik akses pendidikan bagi keluarga prasejahtera.
Meskipun data resmi menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang positif, mahasiswa mempertanyakan relevansi angka tersebut bagi daya beli masyarakat. Statistik hijau milik pemerintah dinilai tidak berbanding lurus dengan harga kebutuhan pokok yang kian tak terjangkau.
Daftar harga pasar yang dirilis dalam aksi ini meliputi:
Beras: Rp 16.000/kg
Minyak: Rp 18.000/L
Cabai: Rp 80.000/kg
Telur: Rp 32.000/kg
Kegelisahan ini dirangkum dalam kalimat lugas: "Pertumbuhan cuma di angka, bukan di perut rakyat." Selain inflasi pangan, masalah pengangguran dan pungli birokrasi masih menjadi momok yang menghantui warga Jawa Barat.
PMII juga memberikan catatan merah pada kebijakan lingkungan di Bogor, terutama terkait proyek-proyek raksasa di zona resapan air seperti MNC Lido dan Eiger. Mahasiswa menuding pemerintah memberikan karpet merah bagi para pemodal besar sambil mengabaikan risiko bencana di masa depan.
"Kawasan resapan air Bogor terancam. Rakyat yang akan panen banjir, pengusaha yang panen untung," bunyi peringatan keras tersebut.
Editor : Agung Bakti Sarasa