get app
inews
Aa Text
Read Next : 2 Hari Besar Keagamaan Berdekatan, UPT Kebersihan KBB Prediksi Volume Sampah Naik 160 Ton per Hari

Udara di Kawasan Gunung Masigit "Bersalju", DLH KBB Investigasi Dugaan Pencemaran

Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:43 WIB
header img
Kondisi udara dan lingkungan di Kampung Pamucatan, Desa Gunung Maaigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang diselimuti debu putih sehingga mengganggu aktivitas masyarakat sekitar. Foto/Tangkapan Layar

BANDUNG BARAT,iNews BandungRaya.id - Video viral memperlihatkan kondisi di kawasan Gunung Masigit, Cipatat, Bandung Barat, yang diselimuti udara berwarna putih.

Kondisi udara yang tidak biasa itu membuat kawasan sekitarnya seperti diselimuti salju. Alhasil Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) melakukan investigasi terkait penyebabnya.

Petugas DLH KBB berencana meninjau langsung ke lokasi untuk kebenaran informasi dan kondisi faktual di lapangan. Serta menentukan langkah penanganan yang tepat dan berbasis data.

"Sampai saat ini kami belum menerima laporan resmi tertulis dari masyarakat. Tapi tingginya perhatian warganet dan dampak yang terlihat secara visual membuat kami akan mengecek ke lokasi," kata Petugas Pengawas Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH) DLH KBB, Adhi Setyowibowo, Sabtu (27/6/2026).

Adhi menyebut, koordinasi dengan berbagai pihak terkait pun segera dijalankan agar pengecekan berjalan komprehensif dan akurat. Nantinya data yang ada akan dicocokkan dengan situasi di lapangan.

"Ya ini sudah menjadi perhatian, makanya kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melihat langsung,” sambungnya.

Salah seorang warga Hidayat (42) menyebutkan, fenomena lingkungan yang mengkhawatirkan ini sebenarnya bukanlah hal baru, namun telah berlangsung cukup lama dan menjadi keluhan diam-diam sehari-hari.

"Kami meyakini debu putih yang terus-menerus menyelimuti atap rumah, halaman, dan pepohonan tersebut bersumber dari aktivitas penggilingan serta pengolahan batu kapur," ucapnya.

Masalah ini menjadi jauh lebih parah dan terasa mengganggu ketika memasuki musim kemarau seperti saat ini, di mana udara yang kering membuat partikel debu lebih mudah terangkat dan terbawa angin masuk hingga ke bagian dalam rumah warga.

“Kalau kemarau seperti sekarang, debu dari penggilingan lebih mudah terbawa angin dan masuk ke rumah warga,” ungkapnya.

Ia menyebut, dampak dari paparan debu yang terus-menerus ternyata tidak hanya merusak kebersihan lingkungan, namun juga telah menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat.

Anaknya kerap menderita gangguan saluran pernapasan akut (ISPA) hingga sesak napas yang diduga kuat berkaitan erat dengan kualitas udara di tempat tinggalnya yang kurang sehat.

Kondisi tersebut baru terlihat perubahannya menjadi lebih baik secara signifikan setelah sang anak menempuh pendidikan di lingkungan pesantren yang udaranya lebih bersih dan bebas dari polusi debu.

“Anak saya dulu sering ISPA dan sesak napas. Setelah pindah ke pesantren, keluhannya jauh berkurang,” katanya.

Kendati persoalan yang telah membebani masyarakat cukup lama ini, warga tidak menuntut penghentian total kegiatan ekonomi yang menjadi sumber mata pencaharian di wilayah tersebut.

Sebaliknya, pihaknya berharap adanya kebijakan dan pengaturan yang lebih tegas, terukur dan berkeadilan.

Ia menyebut warga hanya ingin adanya penataan ulang tata letak atau zonasi usaha, serta pengawasan operasional yang jauh lebih ketat agar dampak pencemaran dapat ditekan seminimal mungkin.

"Perlu dilakukan agar keseimbangan antara keberlangsungan usaha dan kesehatan lingkungan serta keselamatan warga dapat terjaga dengan baik secara berkelanjutan," tandasnya. (*)

Editor : Rizki Maulana

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut