Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Penyejuk di Tengah Peringatan Bencana, Layanan Medis Gratis Menyapa Warga
Advertisement . Scroll to see content

Tuai Kontroversi, Lirik Lagu Berbahasa Sunda Milik Bupati Purwakarta Ini Dikecam Bias Gender

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:48 WIB
  • author Aga Gustiana
Tuai Kontroversi, Lirik Lagu Berbahasa Sunda Milik Bupati Purwakarta Ini Dikecam Bias Gender
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Sebuah karya seni yang diniatkan sebagai wujud rasa syukur justru berbalik menjadi blunder besar bagi Bupati Purwakarta, Sapul Bahri Binzen atau akrab disapa Om Zein. Lagu berbahasa Sunda teranyarnya yang berjudul "Lalaki Langit Lalanang Bejat"—diperkenalkan ke publik dalam gelaran Hajat Bumi di Lingga Mukti—kini memicu gelombang kecaman publik. Alih-alih menuai apresiasi, lirik lagu tersebut dinilai sarat akan superioritas pria, bias gender, hingga menjurus pada narasi misoginis yang menyudutkan kaum hawa.

Kritik tajam yang viral di media sosial salah satunya ditiupkan oleh konten kreator Arini Joesoef. Lewat akun Instagram pribadinya, @arinijoesoef, ia membongkar habis bait demi bait lirik gubahan sang kepala daerah yang dianggap sangat tidak empati.

Kontroversi di Balik Bait Lirik: Ketika Aspek Biologis Menjadi Lelucon

Meski kabarnya telah ditulis sejak awal tahun, lagu ini baru memantik kegaduhan setelah dinyanyikan dalam sebuah agenda resmi kedinasan. Arini menyoroti kontradiksi besar di mana ekspresi spiritual seorang pria disampaikan dengan cara mengolok-olok kodrat serta pengalaman biologis perempuan.

Beberapa bagian lirik yang menjadi sorotan tajam karena dinilai menstempel negatif perempuan antara lain:

Seksualisasi & Stigmatisasi: "Makasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, aku jadi enggak usah beli kutang yang busanya lebih besar daripada payudara."

Meremehkan Isu Kehamilan Remaja: "Sebab kalau aku jadi perempuan, SMP kelas 3 aku udah keguguran 7 kali."

Kecemasan Reproduksi yang Dijadikan Gurauan: "Terima kasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, tak usah berkeliling apotek kalau telat datang bulan."

Merespons isi lagu tersebut, Arini melayangkan kritik terbukanya dengan nada penuh kekecewaan:

"Kalau kita lihat, lagu itu memang bentuk syukur seseorang diciptakan sebagai laki-laki. Tapi apakah layak kita menuturkan syukur kepada sesuatu yang kita agung-agungkan dengan konstruksi lirik yang superior habis? Kenapa menstruasi, beli kutang, reproduksi, dan kehamilan itu dijadikan olok-olok?"

Editor: Agung Bakti Sarasa

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut