get app
inews
Aa Text
Read Next : Perkuat Keselamatan Jalan, Ratusan Driver Ojol di Bandung Ikuti Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Menteri UMKM Klaim Pendapatan Ojol Tak Turun Pascapotongan 8% Berlaku, Driver Bilang Begini

Jum'at, 10 Juli 2026 | 12:35 WIB
header img
Ilustrasi driver ojol. (Foto: Ist)

BANDUNG, iNewsBandungRaya.id - Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengklaim pendapatan driver ojek online (ojol) tak turun pascapotongan 8 persen berlaku.

Kebijakan pembagian komisi 92 persen untuk driver dan 8 persen untuk aplikator tersebut mulai berlaku sejak 1 Juli 2026 lalu.

Maman mengatakan, telah mengkonfirmasi kepada 19 komunitas dan asosiasi ojol dari berbagai daerah. Hasilnya, mayoritas driver ojol mengaku bersyukur dengan kebijakan Presiden Prabowo tersebut.

"Saya kan menanyakan ada isu katanya dengan komisi mereka ditambahin 92 persen justru pendapatan semakin kecil. Kita tanyakan sama mereka, enggak juga," kata Maman usai audiensi di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Rabu (8/6/2026).

Menurut Maman, jika ada driver yang merasakan penurunan penghasilan dalam satu pekan terakhir. Hal itu bukan disebabkan oleh perubahan pembagian komisi. Tetapi faktor utamanya adalah karena masa libur sekolah dan perkuliahan.

"Sebagian dari mereka juga mengatakan alhamdulillah oke. Tapi bahwa mungkin ada juga yang menurun harus dilihat sekarang lagi liburan sekolah. Terus mahasiswa ada juga yang libur. Artinya itu bukan semata-mata karena masalah pembagian komisi," ujar Maman.

Diketahui, mulai awal Juli 2026 pengemudi ojol akan menerima sedikitnya 92 persen dari nilai perjalanan setelah Gojek dan Grab setuju potongan layanan menjadi 8 persen. 

Hal ini sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online.

Sementara itu, mitra pengemudi ojol Reza mengatakan, manfaat dari kebijakan komisi 8 persen ini sudah dirasakan driver ojol di lapangan. Mereka mengapresiasi kepedulian pemerintah terhadap kesejahteraan mitra ojol. 

Reza menilai kebijakan ini sudah baik dan penting untuk terus dikawal bersama melalui ruang-ruang diskusi ke depan. 

"Kami sangat mengapresiasi kepedulian pemerintah terhadap mitra ojol karena manfaat dari kebijakan 8% ini sudah benar-benar kami rasakan dengan naiknya pendapatan. Kebijakan ini sudah bagus, tinggal bagaimana kita kawal bersama," kata Reza.

Selain itu, Reza juga mengungkapkan harapannya terkait status UMKM yang melekat pada ojol dapat ditindaklanjuti dengan program konkret yang semakin memperkuat pendapatan mitra.

Seperti stimulus, pemberdayaan, atau percepatan akses terhadap program-program pemerintah, disertai kejelasan bentuk partisipasi mitra ojol dalam program tersebut.

Dia menegaskan kesiapan mitra untuk terlibat dalam diskusi lanjutan bila diperlukan.

"Kami berharap status UMKM ini bisa ditindaklanjuti dengan program konkret dan positif buat mitra. Entah itu stimulus, pemberdayaan, atau percepatan akses ke program pemerintah. Kami siap terlibat kalau memang butuh diskusi lanjutan," ujarnya.

Senada dengan Reza, mitra pengemudi lainnya, Panglima, mengatakan, pentingnya masukan dari mitra yang benar-benar aktif di lapangan.

Sebab, mereka lah yang paling memahami dampak nyata dari kebijakan ini terhadap order, potongan, biaya operasional, hingga manfaat yang diterima sehari-hari.

Panglima berharap isu-isu terkait ojol tidak lebih banyak dibentuk oleh pihak yang tidak merasakan langsung kondisi di lapangan. Karena, fakta di lapangan menunjukkan peningkatan yang dirasakan mitra.

"Masukan dari mitra yang benar-benar aktif di lapangan itu penting untuk didengar. Karena, kami yang paling paham soal order, potongan, biaya operasional, sampai manfaat yang kami terima sehari-hari. Jangan sampai isu ini lebih banyak dibentuk oleh pihak yang enggak merasakan langsung kondisi di lapangan," ujar Panglima.

Dia menyakini, walaupun sempat ada kekhawatiran terkait perubahan status yang berpotensi memengaruhi manfaat yang telah dirasakan, status UMKM justru berpotensi membuka akses pada dukungan yang lebih besar.

Seperti, program pemberdayaan, stimulus, atau manfaat lain dari pemerintah, yang pada akhirnya turut mendorong pendapatan mitra ke depan. 

Dia optimistis pemerintah tidak akan membuat kebijakan yang mempersulit ojol, melainkan mencari jalan terbaik agar mitra pengemudi semakin sejahtera dan berdaya.

"Memang ada kekhawatiran dari sebagian mitra kalau perubahan status ini bisa bikin manfaat yang sudah kami rasakan jadi berkurang atau hilang," ujarnya. 

Panglima menuturkan, tapi kalau status UMKM ini justru membuka akses ke dukungan yang lebih besar, seperti program pemberdayaan atau stimulus, itu patut disyukuri dan kawal bersama. 

"Saya percaya pemerintah enggak akan membuat kebijakan yang mempersulit ojol, tapi justru mencari jalan terbaik supaya kami lebih terlindungi dan berdaya," tutur Panglima.

Menurut Panglima, status ojol sebagai UMKM atau pengusaha mikro transportasi online dinilai sebagai formula yang paling sesuai, mengingat ojol bekerja mandiri dan menjadi rekan usaha bagi aplikator. 

Dukungan penuh terhadap status UMKM ini sebagai bukti kehadiran nyata pemerintah. Terutama dalam mendorong kesejahteraan dan peningkatan pendapatan para mitra pengemudi ojol, dengan tetap menjaga keberlanjutan industri.

"Status ojol kan selama ini sering diperdebatkan. Menurut saya, status sebagai UMKM atau pengusaha mikro transportasi online ini formula paling pas. Kami kerja mandiri dan jadi rekan usaha aplikator, bukan pekerja formal. Ini bukti pemerintah hadir dan benar-benar memperhatikan nasib kami," ucap Panglima.

Editor : Abdul Basir

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut